Ia menjelaskan bahwa pendekatan deep learning menekankan proses belajar yang lebih mendalam melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut tetap mengacu dan selaras dengan implementasi Kurikulum Merdeka maupun kebijakan Kurikulum Nasional.
Selama pelatihan, peserta dibagi ke dalam beberapa kelas sesuai bidang tugas masing-masing. Para guru memperoleh pembekalan mengenai administrasi pendidikan dan penyusunan perangkat pembelajaran, sementara para kepala sekolah mengikuti materi tentang manajemen dan tata kelola sekolah yang efektif.
Selain itu, peserta juga menerima materi mengenai Kebijakan Majelis Sinode GMIT Bidang Pendidikan periode 2024–2027, tata kelola pendidikan Kristen, serta peran dan tugas pokok pendeta GMIT sebagai penilik rohani sekolah dalam mendampingi penyelenggaraan pendidikan di lingkungan sekolah-sekolah GMIT.
Melalui pelatihan ini, Majelis Sinode GMIT berharap seluruh kepala sekolah dan guru di bawah naungan Yapenkris Pingdoling Alor semakin profesional, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menghadirkan pendidikan Kristen yang bermutu, berkarakter, dan relevan dengan kebutuhan zaman, sehingga dapat melahirkan generasi yang memiliki iman, integritas, kecakapan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. (*)
Penulis: Yayasan Pingdoling Alor
