Pengadaan Ternak Babi di Desa Fuisama dan Kenarimbala Diduga Tak Berorientasi Pemberdayaan, Dinilai Berpotensi Memboroskan Dana Desa

Ilustrasi program pengadaan bibit ternak babi

KUPANG, WARTAALOR.COM – Penggunaan Dana Desa untuk program pengadaan bibit ternak babi di Desa Fuisama, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU), dan Desa Kenarimbala, Kecamatan Alor Timur Laut (ATL), Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi sorotan. Program tersebut dinilai belum mencerminkan asas pemberdayaan masyarakat sebagaimana tujuan utama pengelolaan Dana Desa, bahkan diduga berpotensi menjadi pemborosan anggaran apabila terus dilakukan setiap tahun tanpa menghasilkan keberlanjutan.

Informasi yang diperoleh wartawan dari sumber yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyebutkan bahwa Pemerintah Desa Fuisama dan Pemerintah Desa Kenarimbala masing-masing mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp100 juta pada Tahun Anggaran 2026 untuk kegiatan pengadaan bibit ternak babi. Pengadaan tersebut disebut dilakukan oleh supplier yang sama, yakni seorang penyedia bernama Buce.

“Desa-desa yang ada pengadaan ternak babi oleh Buce, Fuisama Rp100 juta tahun 2026, Kenarimbala Rp100 juta tahun 2026,” ujar sumber tersebut kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).

Menurut sumber tersebut, kedua desa sebelumnya juga telah mengalokasikan Dana Desa untuk kegiatan pengadaan bibit ternak babi. Karena itu, ia mempertanyakan efektivitas program tersebut apabila terus dianggarkan setiap tahun tanpa adanya evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai.

Ia menjelaskan bahwa secara konsep pemberdayaan, pengadaan bibit ternak seharusnya cukup dilakukan satu atau dua kali sebagai modal awal bagi kelompok masyarakat. Setelah itu, ternak dipelihara dan dikembangkan melalui sistem perkembangbiakan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat penerima manfaat.

Pos terkait