KALABAHI, WARTAALOR.COM – Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) melalui Bidang Pendidikan menggelar pelatihan pengembangan kapasitas bagi kepala sekolah dan guru di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Pingdoling Alor. Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan Bulan Pendidikan GMIT Tahun 2026 tersebut berlangsung di Aula Gereja Pola Tribuana Kalabahi, Selasa (28/7/2026).
Pelatihan ini diikuti oleh kepala sekolah dan guru dari berbagai satuan pendidikan Yapenkris Pingdoling Alor. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie, Anggota Majelis Sinode GMIT Bidang Pendidikan Pnt. Dr. Fredrik Abia Kande, Badan Pendidikan Sinode GMIT, Staf Ahli Bupati Alor Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Yustus B. Dopong Abora, serta para pengurus Yapenkris Pingdoling Alor.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah-sekolah GMIT, baik dalam aspek kepemimpinan, tata kelola pendidikan, administrasi pembelajaran, maupun implementasi kurikulum yang relevan dengan perkembangan dunia pendidikan saat ini.
Dalam Suara Gembalanya, Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie menegaskan bahwa guru dan kepala sekolah di lingkungan GMIT merupakan bagian penting dari pelaksanaan misi gereja. Menurutnya, para pendidik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai Kristiani agar mampu menjadi pribadi yang berintegritas dan agen pembaruan di tengah masyarakat.
Ia menuturkan bahwa sebagian besar sekolah GMIT berada di wilayah pedesaan dan melayani masyarakat dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia para guru harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan mereka.
“Sekolah-sekolah GMIT di desa ini rata-rata melayani orang-orang susah. Karena itu, tantangan kita adalah kesejahteraan guru. Kita berdoa tahun 2028 mulai masuk pada ekosistem sentralisasi gaji guru. Tugas kita adalah mandiri, supaya guru-guru kita hadir dengan makna panggilan yang kuat dan kesejahteraan yang layak,” ujar Pdt. Semuel.
Ia berharap seluruh pendidik tetap menjaga semangat pelayanan, meningkatkan kompetensi, serta menjadikan profesi guru sebagai panggilan iman dalam membangun generasi yang berkarakter, cerdas, dan berdaya saing.
Dukungan terhadap penguatan pendidikan Kristen juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Alor. Staf Ahli Bupati Alor Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yustus B. Dopong Abora, menyatakan bahwa pelatihan yang diselenggarakan Yapenkris Pingdoling merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mendukung visi pemerintah daerah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan pembangunan di masa depan.
Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan semangat dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebaliknya, tantangan tersebut harus dijadikan motivasi untuk terus melakukan inovasi dan memperkuat kompetensi para tenaga pendidik.
Selain penguatan komitmen pelayanan dan kepemimpinan, peserta juga mendapatkan materi mengenai pengembangan kurikulum berbasis deep learning. Dalam pemaparannya bertajuk “Desain dan Implementasi Kurikulum Pendidikan Kristen GMIT”, Dr. Johana Manubey menjelaskan bahwa kurikulum tersebut dirancang untuk memperkuat identitas sekolah-sekolah GMIT sekaligus menjawab tuntutan pembelajaran abad ke-21.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan deep learning menekankan proses belajar yang lebih mendalam melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut tetap mengacu dan selaras dengan implementasi Kurikulum Merdeka maupun kebijakan Kurikulum Nasional.
Selama pelatihan, peserta dibagi ke dalam beberapa kelas sesuai bidang tugas masing-masing. Para guru memperoleh pembekalan mengenai administrasi pendidikan dan penyusunan perangkat pembelajaran, sementara para kepala sekolah mengikuti materi tentang manajemen dan tata kelola sekolah yang efektif.
Selain itu, peserta juga menerima materi mengenai Kebijakan Majelis Sinode GMIT Bidang Pendidikan periode 2024–2027, tata kelola pendidikan Kristen, serta peran dan tugas pokok pendeta GMIT sebagai penilik rohani sekolah dalam mendampingi penyelenggaraan pendidikan di lingkungan sekolah-sekolah GMIT.
Melalui pelatihan ini, Majelis Sinode GMIT berharap seluruh kepala sekolah dan guru di bawah naungan Yapenkris Pingdoling Alor semakin profesional, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menghadirkan pendidikan Kristen yang bermutu, berkarakter, dan relevan dengan kebutuhan zaman, sehingga dapat melahirkan generasi yang memiliki iman, integritas, kecakapan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. (*)
Penulis: Yayasan Pingdoling Alor
