Kades Mataru Barat Surati Bupati Alor Terkait Proyek Pembangunan Gedung Sekolah Mangkrak

Kalabahi, wartaalor.com – Kepala Desa (Kades) Mataru Barat, Nimrod Karmalei kirim surat kepada Bupati Alor, Iskandar Lakamau di Kalabahi. Surat itu terkait proyek pekerjaan pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) SD Negeri Matafoi di Desa Mataru Barat Kecamatan Mataru Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dikerjakan CV Famili Group Enginering tahun 2024.

Adapun isi surat Nomor: 140/DMB/VI/2025 tertanggal 19 Juni 2025, perihal penegasan. Atas nama masyarakat Desa Mataru Barat, kami menyikapi dan menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari media massa Radar Pantar dan Warta Alor, pekerjaan pembangunan RKB SD Negeri Matafoi yang dikerjakan kontraktor atas nama Yustinus Awengkari (UKEN), yang menggunakan CV. Famili Group Engineering pada Juli 2024 hingga saat ini belum selesai alias mangkrak. Pasalnya sampai saat ini belum dilanjutkan. Namun oknum tersebut juga menggunakan CV. Menasak, CV. Gasindo, CV. Delta Amar Perdana dan CV. Ken Jaya Pacifik untuk mengikuti tender pekerjaan pembangunan gedung SMP Negeri 4 Mataru tahun ini.

“Untuk itu kami memohon kepada Bapak Bupati untuk memanggil dan menyampaikan kepada oknum tersebut untuk melanjutkan sisa pekerjaan ruang kelas yang mangkrak pada Sekolah Dasar Negeri Matafoi dalam waktu 2 minggu. Sehingga oknum tersebut bisa mengikuti tender lelang pekerjaan pembangunan gedung pada SMP Negeri 4 Mataru”, ujar Kades Mataru Barat dalam suratnya itu.

Bacaan Lainnya

Dikatakannya bahwa jika hal tersebut tidak dilakukan maka, kami selaku Pemerintah Desa Mataru Barat bersama masyarakat, akan mencegah oknum tersebut apabila menang tender dan melakukan pekerjaan pembangunan gedung SMP Negeri 4 Mataru.

Diberitakan sebelumnya, pembangunan dua Ruang Kelas Baru (RKB) SDN Matafui, Desa Mataru Barat, Kecamatan Mataru Kabupaten Alor oleh CV. Famili Group Engineering sejak Tahun 2024 mangkrak atau belum rampung. Kontraktor pelaksana deadline satu minggu oleh pendukung sekolah untuk segera menyelesaikan sisa pekerjaan. Jika tidak, warga siap lapor Kejaksaan Negeri Alor.

Warga pendukung sekolah meminta agar dalam waktu satu pekan ke depan, kontraktor pelaksana dalam hal ini CV Famili Group Engineering segera menyelesaikan sisa pekerjaan yang belum rampung. Jika tidak maka warga pendukung sekolah di wilayah itu siap melaporkan mangkraknya pembangunan ruang kelas baru di sekolah itu kepada Kejaksaan Negeri Alor. Hal ini disampaikan salah seorang tokoh muda asal Mataru, Osias Alomou, pada Selasa, (17/6/25).

Dikutip dari Radar Pantar, Alomau kemudian merinci item pekerjaan yang belum rampung dikerjakan kontraktor pelaksana di sekolah itu  yakni, kap, atap, tehel, sebagian plester.

Dua Ruang Kelas Baru yang dikerjakan anggaran sebesar  Rp. 400 Juta dari Dana Alokasi Khusus (DAK) menurut Alomau, ditinggalkan pekerjaannya oleh kontraktor pelaksana sejak Agustus 2024 silam.

“Masyarakat pendukung sekolah, termasuk kepala sekolah kala itu sudah mendatangi pihak kontraktor untuk melanjutkan sisa pekerjaan yang belum dikerjakan, tetapi hingga saat ini kontraktor yang bersangkutan tidak memiliki itikat baik memenuhi permintaan masyarakat pendukung sekolah”, ungkap Osias.

Yang menarik dari Osias, yaitu sekitar Agustus 2024, kontraktor pelaksana melalui tukang hendak mengerjakan kap menggunakan kayu mangga sehingga dikomplain oleh warga setempat. Karena dikomplain warga ini yang kontraktor pelaksana memilih meninggalkan pekerjaan, hingga kini tidak dapat melanjutkan pekerjaan yang masih tersisa.

“Masyarakat di wilayah itu menunggu kontraktor pelaksana dalam satu pekan ke depan untuk melanjutkan pekerjaan yang masih tersisa. Jika tidak maka masyarakat sediri yang akan mendatangi Kejaksaan Negeri Alor untuk melaporkan masalah ini”, ujar Osias menegaskan.

Dinas Pendidikan Kabupaten Alor sebagai pemilik pekerjaan juga harus ikut bertanggung jawab terhadap mangkraknya pekerjaan pembangunan dua ruang kelas baru di sekolah itu.

Orias Alomau mengaku prihatin dengan kondisi gedung semi permanen di sekolah itu karena anak-anak, termasuk guru terpaksa lari kiri-lari kanan silih hujan pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

Masyarakat bukan hanya mendatangi kontraktor pelaksana mengetuk pintu hatinya untuk melanjutkan pekerjaan karena gedung itu sangat dibutuhkan anak-anak didik, masyarakat juga sudah mendatangi IRDA dan melaporkan mangkraknya pekerjaan itu tetapi kontraktor pelaksana seolah menutup pintu hatinya untuk tidak melanjutkan pekerjaan yang masih tersisa. ***(joka)

Pos terkait