Oleh: Sjaichul Anwari *)
Dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum untuk melihat bagaimana Indonesia menyiapkan fondasi ekonomi di tengah perubahan lanskap energi dunia. Salah satu arah yang semakin menonjol adalah penguatan energi bersih sebagai bagian dari strategi ketahanan energi, investasi, dan daya saing jangka panjang.
Perubahan menuju energi bersih tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi telah menjadi bagian dari persaingan ekonomi global. Negara yang mampu membangun energi terbarukan, memperkuat industrinya, dan menyediakan listrik yang kompetitif akan memiliki posisi lebih baik dalam menarik investasi serta mengembangkan industri masa depan.
Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai Indonesia memiliki arah yang cukup jelas menuju energi bersih selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia melihat target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt peak (GWp) sebagai salah satu indikator kuat dari arah tersebut.
Menurut Yayan, target tersebut menempatkan Indonesia pada salah satu program pengembangan energi surya berskala besar. Rencana pengurangan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap juga menunjukkan bahwa transisi energi mulai ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.
Transisi energi juga memiliki hubungan erat dengan industrialisasi karena kebutuhan listrik bersih semakin diperhitungkan dalam keputusan investasi perusahaan global. Indonesia memiliki peluang untuk menghubungkan pengembangan energi terbarukan dengan kawasan industri, pusat data, manufaktur, serta industri yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.
Peluang tersebut menjadi semakin penting ketika Indonesia ingin meningkatkan kualitas investasi yang masuk. Investor akan mempertimbangkan kepastian energi, biaya produksi, infrastruktur, serta kemampuan suatu negara memenuhi tuntutan keberlanjutan dalam rantai pasok global.