Media Sosial dan Kualitas SDM Indonesia

Oleh : Mu'min Boli/Pegiat Pendidikan Indonesia

AKHIR-AKHIR ini saya sering sekali tertegun. Rasa kalut bercampur haru selalu muncul dalam diri saya setiap kali melihat layar ponsel. Segenap platform media sosial seperti tik-tok, instagram, bahkan juga facebook, hampir dipenuhi dengan konten-konten yang tidak edukatif.

Hal-hal seperti perilaku kekerasan, gosip, bullying, flexing, perbuatan amoral, dan perilaku konyol lainnya lah yang cenderung mendominasi algoritma media sosial saat ini.

Tentu hal ini sungguh riskan bagi saya. Muncul pertanyaan, mengapa aktivitas masyarakat Indonesia di media sosial jauh dari nilai-nilai moral. Dan mengapa sesuatu yang amoral dan jauh dari sifat edukatif bisa menjadi viral? Mengapa masyarakat kita lebih suka mengkonsumsi gosip dan kekonyolan? Mengapa dan mengapa?

Situasi yang runyam ini pun turut diperkeruh oleh peran sebagian stasiun TV. Mereka beramai-ramai ikut memproduksi hal-hal viral yang konyol, juga hal-hal lain yang jauh dari nilai edukasi. Ini bisa dilihat misalnya, ketika ada peristiwa viral dengan nuansa konyol, stasiun-stasiun TV dengan sekonyong-konyongnya langsung mengundang tokoh yang sedang viral itu untuk hadir dalam acara “talk show” dan sejenis program acara lainnya.

Lagi dan lagi, aktivitas ruang digital kita sudah penuh sesak dengan produksi wacana dan konten sampah yang tidak mengedukasi. Dan tentunya hal ini bisa berdampak buruk bagi perkembangan masyarakat apalagi generasi penerus bangsa ini.

Pos terkait