“Banjir ini siapa yang bisa tahan coba. Untuk itu sedikit lagi nanti saya suruh dorang bawa alat (berat) datang. Sekarang yang mana yang dorang, normalisasi yang mana?” tanya Bupati kepada warga lainnya.
“Di bagian sini naik ini bapak,” jawab warga itu sambil menunjuk posisi kali yang meluap ke rumah warga.
“Janji e. Kalau tidak saya punya kepala, rambut kamu tanam kembali,” kata warga yang tadinya protes sambil menunjuk kepalanya yang botak.
Warga itu tak puas dengan kepemimpinan Lurah Welai Timur yang dinilai lambat terjun langsung ke lapangan memantau situasi bencana. Ia kesal pada lurah tersebut yang diduga tidak melaporkan kondisi bencana kepada Bupati Alor untuk dilakukan penanganan.
“Bapak punya pemimpin ganti Lurah, tidak pernah turun cek lokasi. Makanya keterlambatan penanganan (membuat) kami palang ini jalan,” lanjut warga itu.
“Sudah, saya yang salah jadi sudah,” Bupati meminta maaf atas kesalahan Lurahnya. “Tapi apa, buka sedikit memanjang saja e,” lanjut Bupati sambil tenangkan warganya dan mengajak membuka blokade jalan untuk dilalui masyarakat umum.
“Saya buka. Kasih kami waktu jam berapa Exa tiba. Kalau tidak saya punya kepala yang botak kamu taru rambut kembali,” kata warga tersebut lagi-lagi menunjuk kepalanya yang botak.
Bupati Alor terlihat memerintahkan Kepala Bapelitbang Alor Obet Bolang untuk berkoordinasi dengan Kadis PUPR Melianus Atacay, menerjunkan exavator di wilayah itu.
