Sebaliknya, ia mengingatkan adanya pawai yang bersifat destruktif, yakni iring-iringan yang dipimpin pemerintahan Romawi saat membawa Yesus menuju penyaliban. Pawai tersebut, menurutnya, menjadi lambang penyebaran fitnah, kebencian, kekacauan, serta berita yang tidak benar.
“Oleh karena itu, sekolah-sekolah GMIT harus menjadi pelopor dalam membangun budaya damai, menjunjung tinggi kebenaran, serta menolak segala bentuk hoaks, fitnah, maupun tindakan yang dapat memecah persatuan,” pesannya.
Sepanjang rute pawai, antusiasme peserta tampak begitu tinggi. Para siswa mengenakan beragam busana kreatif, pakaian adat, serta atribut sekolah yang menarik perhatian masyarakat yang memadati jalur karnaval.
Dua siswa SD GMIT Aimoli, Judika Suleman Duka, siswa kelas IV, dan Dejan Melila, siswa kelas VI, mengaku senang dapat kembali mengikuti pawai Bulan Pendidikan GMIT yang setiap tahun menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan.
Menurut mereka, selain mengikuti pawai, sekolah juga aktif berpartisipasi dalam berbagai perlombaan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Pendidikan GMIT, seperti lomba kreasi, tari tradisional Lego-lego (Holeng-holeng), hingga lomba storytelling. Berbagai kegiatan tersebut sekaligus menjadi wadah pengembangan bakat dan kreativitas siswa serta persiapan menghadapi berbagai perlombaan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus mendatang.
Ketua Yapenkris Pingdoling Alor, Mando Kolimon, mengatakan pelaksanaan pawai karnaval dan berbagai ajang kreativitas siswa diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat pendidikan Kristen GMIT di Kabupaten Alor.
Menurutnya, sekolah-sekolah GMIT memiliki sejarah panjang dalam pelayanan pendidikan sejak tahun 1911. Karena itu, warisan tersebut harus terus dipelihara sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan peserta didik, guru, gereja, dan orang tua.
