Oleh: Alexandro Dimitri*)
Seporsi Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan semata urusan makanan yang tersaji bagi anak-anak dan kelompok penerima manfaat. Di baliknya ada rangkaian kegiatan ekonomi yang menghubungkan petani, peternak, pedagang pasar, pengolah makanan, hingga jasa distribusi. Ketika kebutuhan pangan program dipenuhi dari daerah sendiri, manfaatnya dapat bergerak melampaui meja makan, menjadi peluang pendapatan dan pasar yang lebih pasti bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
MBG layak dibaca sebagai investasi sosial sekaligus penggerak ekonomi lokal. Program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini membutuhkan pasokan pangan secara berulang di banyak wilayah. Permintaan tersebut berpotensi memperluas pelanggan dan kapasitas produksi UMKM, asalkan pengadaan berjalan adil dan mutu pangan tetap terjaga. Kebutuhan ini juga memberi ruang bagi usaha rumahan untuk mengolah pangan lokal menjadi produk siap olah.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan bahwa sekitar 68 ribu UMKM telah menjadi pemasok MBG, dengan produk yang beragam sesuai kebutuhan wilayah, mulai dari makanan olahan hingga telur. Namun, ia menilai keterlibatan itu belum cukup luas sehingga partisipasi pelaku usaha perlu terus diperbesar. Kementerian UMKM, menurut Maman, sedang menyiapkan formulasi kolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar lebih banyak usaha lokal dapat masuk ke rantai pasok program tersebut.