Oleh: Kartika Widiati )*
Indonesia menghadapi risiko bencana geologi yang kompleks, mulai dari letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, hingga gerakan tanah. Kondisi geografis yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik, ditambah keberadaan gunung api aktif, menuntut masyarakat memiliki akses terhadap informasi ancaman yang akurat dan mudah dipahami.
Tanpa informasi yang memadai, masyarakat berisiko terlambat mengenali bahaya dan menentukan langkah perlindungan. Karena itu, upaya pemerintah mengintegrasikan teknologi dalam mitigasi bencana patut diapresiasi sebagai langkah memperkuat kesiapsiagaan dan melindungi keselamatan masyarakat.
Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui pengembangan Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia (MAGMA) Indonesia versi 2.0 oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Aplikasi ini mengintegrasikan informasi mengenai aktivitas gunung api, gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah dalam satu layanan digital. Versi terbaru yang diluncurkan di Jakarta memperkuat fungsi MAGMA sebagai sarana bagi masyarakat untuk mengenali ancaman geologi dan memperoleh informasi yang relevan dengan keselamatan mereka.
Manfaat paling nyata MAGMA bagi masyarakat adalah membantu mengenali potensi bahaya sebelum melakukan aktivitas di suatu wilayah. Melalui fitur informasi lokasi rawan bencana, pengguna dapat memahami apakah kawasan di sekitar mereka memiliki ancaman geologi yang perlu diwaspadai. Informasi ini dapat menjadi pertimbangan ketika merencanakan perjalanan, mengunjungi destinasi wisata alam, melakukan pendakian, atau menjalankan kegiatan sehari-hari di daerah berisiko.