*) Oleh : Della Amanda
Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan moneter di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Gejolak geopolitik, perubahan arah kebijakan suku bunga negara maju, hingga fluktuasi harga komoditas dunia masih menjadi tantangan yang memengaruhi pergerakan nilai tukar dan arus modal internasional. Meski demikian, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin erat mampu menjaga kepercayaan pelaku usaha maupun investor terhadap perekonomian nasional. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting agar stabilitas ekonomi tetap terpelihara dan aktivitas dunia usaha dapat terus berjalan dengan baik.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama bank sentral. Menurutnya, BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter melalui pengelolaan suku bunga, stabilisasi nilai tukar, serta pendalaman pasar keuangan untuk menjaga inflasi tetap rendah dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kebijakan tersebut juga diperkuat dengan kecukupan cadangan devisa Indonesia yang berada pada level aman sehingga mampu menopang kebutuhan pembayaran impor maupun kewajiban utang luar negeri pemerintah.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Aviliani, menilai koordinasi yang erat antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar. Menurutnya, ketika kebijakan fiskal dan moneter bergerak searah, pelaku usaha memperoleh kepastian terhadap arah kebijakan ekonomi nasional sehingga risiko gejolak di pasar keuangan dapat ditekan. Ia menjelaskan bahwa stabilitas moneter bukan hanya berkaitan dengan nilai tukar rupiah, tetapi juga menyangkut tingkat inflasi, suku bunga, dan kelancaran sistem pembayaran yang berdampak langsung terhadap dunia usaha maupun masyarakat.