Menurut dr. Hikari Ambara Sjakti, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), program ini adalah peluang emas untuk mendeteksi masalah kesehatan sejak dini. Ia menyoroti pentingnya memperhatikan aspek malnutrisi, anemia, gangguan penglihatan dan pendengaran, hingga penyakit kronis yang sering luput dari perhatian. Menurutnya, pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan alat sederhana seperti timbangan, alat ukur tinggi badan, hingga alat deteksi hemoglobin agar pemeriksaan berjalan efektif. Ia mengingatkan, anak yang putus sekolah juga harus mendapat prioritas karena mereka sama rentannya dengan anak-anak lain. Pandangan ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk memperluas jangkauan layanan hingga komunitas marginal.
Sementara itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Rini Widyantini, menegaskan keseriusan pemerintah dalam menjamin kualitas layanan. Dalam kunjungannya ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kramat Pela, ia melihat langsung pelaksanaan CKG dan memastikan alur pelayanan berjalan baik. Menurutnya, keterlibatan aparatur negara di lapangan menjadi bukti nyata bahwa reformasi birokrasi tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi diimplementasikan untuk kepentingan publik. Rini juga menekankan pentingnya integrasi data kesehatan anak agar ke depan bisa menjadi basis kebijakan yang lebih presisi.
Di Provinsi Bali, I Gede Anom, selaku Kepala Dinas Kesehatan, menggarisbawahi optimisme daerah dalam menyambut program ini. Ia menyebut target 740 ribu siswa bukan hal kecil, namun dapat dicapai dengan dukungan sekolah, orang tua, serta tenaga kesehatan yang siap bekerja sama. Menurutnya, program ini akan membantu pemerintah daerah dalam menyusun peta kesehatan generasi muda Bali, sekaligus memperkuat upaya pencegahan penyakit menular maupun tidak menular sejak dini.
Selain capaian teknis, program CKG juga membawa dampak psikologis yang positif. Orang tua merasa lebih tenang karena anak mereka dipantau kesehatannya secara rutin. Guru pun mendapat informasi penting untuk mendukung proses belajar, karena kesehatan siswa berkaitan erat dengan konsentrasi dan prestasi di sekolah. Tidak kalah penting, anak-anak belajar sejak dini bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Dari sisi teknologi, pemerintah juga memperkuat program dengan layanan digital. Melalui aplikasi “Satu Sehat” dan chatbot WhatsApp di beberapa daerah, data kesehatan bisa terekam secara cepat dan aman. Digitalisasi ini membantu mempercepat rujukan dan mencegah penumpukan administrasi di fasilitas kesehatan. Lebih jauh, data yang terkumpul akan menjadi modal penting untuk perencanaan jangka panjang, misalnya memprediksi kebutuhan gizi atau pola penyakit di suatu wilayah.