Idealisasi Desa Dalam Cengkraman Krisis Ekologi


Secara umum di wilayah perkotaan hampir diseluruh daerah, intensitas aktivitasnya lebih padat dan mobile dibandingkan dengan aktivitas di wilayah pedesaan. Hal ini disebabkan karena di wilayah perkotaan memiliki tingkat kebutuhan dan keinginan yang lebih banyak seperti transportasi, pola konsumsi, gaya hidup, dan pola hidup lainnya yang menghendaki manusia di wilayah perkotaan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan dunia modern. Sudah menjadi hukum alam (keniscayaan) bahwa setiap kegiatan manusia yang dilakukannya pasti memiliki dampak terhadap lingkungan. Maka dengan intensiitas kegiatan di perkotaan yang begitu tinggi, pengaruh dampak terhadap lingkunganpun berpotensi menuai bahkan melebihi batas ketentuan standar baku mutu yang telah ditetapkan.

Kehidupan perkotaan sebagaimana yang telah diungkap diatas, juga terjadi pada kabupaten Alor, sehingga mengakibatkan terjadi krisis ekologi. Faktor yang dapat dijadikan sebagai varabel dalam krisis tersebut adalah maraknya hambuuran sampah yang tak terhimpun, hutan yang mulai menggundul, luapan air limbah yang terus mengalir tak terarah, beningnya air laut yang mulai menghitam, buruknya sanitasi perkotaan dan pasar, sampai pada pemanfaatan lahan yang tak terkontrol. Variabel-variabel inilah yang sering kita jumpai di wilayah perkotaan khususnya kota Kalabahi-kabupaten Alor.


Terdapat 158 desa yang menjadi bagian dari wilayah kabupaten Alor. Desa-desa tersebut, baik yang terintegrasi dalam pulau besar Alor maupun pulau-pulau kecil sebut saja pulau Pura, pulau Ternate, pulau Buaya, sampai pulau Pantar memeberikan sebuah optimisme bagi masyarakat bahwa ekosistem di daerah pedesaan tersebut masih penuh dengan nuansa kealamian. Hutan yang masih menggundul, air laut yang penuh kebeningan, terumbu karang yang masih terawat, atmosfer udara yang belum begitu tersubstrat (terkontaminsai), sampai pada akivitas dan pola hidup masyarrakat yang bersifat tradisional, sangat memberi dukungan kepada keberlangsungan dan keberlanjutan sistem ekologi.

Perkembangan suatu desa yang di indikasikan dengan petambahan peduduk, penggunaan teknologi, dan pemanfaatan alam/lingkungan dapat memungkinkan terjadinya ancaman krisis ekolog, baik dalam jangka waktu menengah maupun panajang. Oleh sebab itu pembangunan penguatan idealisasi wilayah pedesaan perlu untuk lakukan sebagai basis pertahanan desa dalam menangkal ancaman-ancaman krisis ekologi tersebut. Idealisasi desa adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh perangkat pemerintah desa beserta masyarakatnya secara sinergis degan tujuan untuk meningkatkan produktivitas kehidupan masyarakat desa dengan selalu memperhatikan kemungkinan-kemungkinan dampak yang akan terjadi. Dari segi ekologis kegiatan itu dilakukan dengan berbagai cara seperti pegelolaan, perawatan, pelestarian dan proteksi terhadap eksistensi ekosisitem pedesaan dalam rangka menjaga keberagaman dan kesinambungan antara manusia sebagai mahluk hidup dan lingkungannya.

Karakter masyarakat desa yang cenderung memiliki semangat kolektivitas menjadi modal tersendiri dalam mengajak untuk bekerja sama dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial-kemasyarakatan dengan tujuan pembangunan desa. Dengan begitu maka, akan lebih muda jika pimpinan dan perangkat-perangkat lembaga desa mengajak masyarakatnya untuk menjalankan suatu program kegiatan yang dapat menunjang produktivitas masyarakat tanpa mengganggu kondisi ekologi di wilayah pedesaan masing-masing. Secara kepimpinan, tentu hal ini tergantung dari pimpinan dan perangkat lemabaga desa dalam merumuskan program-program yang berpihak pada keberlangusngan hidup masyarakat desa dan lingkungan ia hidup.

Pos terkait