Dukungan ASEAN Perkuat Momentum Reformasi Pasar Modal Indonesia

Manfaat pembenahan harus terasa hingga masyarakat. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan jumlah investor pasar modal mencapai 32,17 juta pada September 2026, mayoritas merupakan investor ritel. Partisipasi publik yang meningkat memperluas basis pembiayaan nasional, tetapi juga menuntut edukasi dan perlindungan lebih kuat. Investor pemula perlu memperoleh informasi yang mudah dipahami agar tidak terjebak spekulasi, sementara perusahaan didorong menjaga keterbukaan dan tanggung jawab pengelolaan.

Dukungan ASEAN perlu diterjemahkan menjadi kerja bersama yang konkret. Pertukaran informasi antarregulator, penyelarasan standar pengungkapan keberlanjutan, pengawasan lintas batas, dan pengembangan pembiayaan hijau dapat memperkuat ketahanan pasar. Keuangan berkelanjutan tidak boleh berhenti sebagai label, melainkan harus didukung data yang dapat diuji, tata kelola yang akuntabel, serta manfaat ekonomi dan lingkungan yang terukur.

Pemerintahan Presiden Prabowo memiliki ruang untuk menjadikan momentum ini sebagai pengungkit reformasi struktural. Kolaborasi OJK, pemerintah, BEI, KSEI, pelaku usaha, dan mitra ASEAN perlu dijaga agar kebijakan konsisten diterapkan dan dievaluasi. Dengan transparansi kuat, penegakan hukum tegas, serta kerja sama regional berorientasi keberlanjutan, Indonesia dapat membangun pasar modal yang dipercaya, memperluas pembiayaan pembangunan, dan memperkokoh kemandirian ekonomi nasional.

*) Penulis merupakan Pengamat Ekonomi

Pos terkait