MAGMA juga membantu masyarakat memahami perkembangan aktivitas gunung api melalui informasi status dan rekomendasi resmi. Informasi tersebut berguna bagi warga yang tinggal di sekitar gunung api, wisatawan, pendaki, serta pelaku kegiatan ekonomi di kawasan terdampak. Perubahan tingkat aktivitas dapat menjadi pertimbangan untuk menyesuaikan rencana perjalanan atau menghindari kawasan yang dibatasi. Pengguna tetap perlu mengikuti zona larangan dan arahan petugas karena informasi aplikasi tidak menggantikan keputusan keselamatan di lapangan.
Pengembangan aplikasi ini telah dimulai sejak Januari 2015 dan terus disempurnakan, termasuk melalui penambahan peta digital serta pilihan bahasa Inggris pada 2019. MAGMA dapat diakses melalui portal daring dan perangkat telepon pintar sehingga informasi kebencanaan lebih mudah dijangkau masyarakat Indonesia maupun pengunjung dari luar negeri. Kemudahan akses ini penting karena informasi yang bermanfaat harus tersedia bagi orang yang membutuhkannya, bukan hanya bagi kalangan teknis atau instansi pemerintah. Kehadiran satu layanan terpadu juga membantu pengguna memperoleh beragam informasi kebencanaan dalam satu platform.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa pengembangan MAGMA diarahkan pada penyediaan informasi yang lebih terperinci melalui atlas kerawanan bencana geologi, informasi tapak untuk mengenali karakteristik tanah, serta pemetaan sumber dan potensi gempa. Informasi ini dapat membantu masyarakat memahami karakteristik wilayah tempat tinggal maupun lokasi yang hendak dikunjungi. Data yang lebih terperinci juga dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan pembangunan rumah dan fasilitas umum, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tertentu.
Manfaat MAGMA tidak berhenti pada kepentingan individu, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan lingkungan permukiman dan fasilitas publik. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa pembangunan bangunan dan infrastruktur di wilayah rawan bencana geologi perlu disesuaikan dengan karakteristik ancaman setempat. Peta kerawanan dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam merencanakan pembangunan secara lebih hati-hati, sehingga potensi kerusakan dan gangguan terhadap kehidupan masyarakat dapat dikurangi. Pendekatan ini penting agar pertimbangan keselamatan tidak baru muncul setelah bencana menimbulkan kerugian.
Untuk mendukung tujuan tersebut, informasi MAGMA direncanakan terintegrasi dengan sistem informasi tata ruang atau GISTARU di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Data kebencanaan juga dapat mendukung perencanaan Kementerian Pekerjaan Umum serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Integrasi ini memungkinkan pertimbangan risiko geologi masuk ke dalam proses penentuan tata ruang, lokasi permukiman, dan pembangunan infrastruktur. Bagi masyarakat, perencanaan yang memperhitungkan ancaman sejak awal berpotensi mengurangi paparan terhadap bahaya dan memperkuat keselamatan dalam jangka panjang.