Oleh: Nadia Prameswari )*
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap pembenahan melalui transformasi MBG 2.0 yang menempatkan keamanan pangan dan ketepatan sasaran sebagai prioritas. Di tengah perluasan penerima manfaat, keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang disalurkan, tetapi juga dari kepastian bahwa setiap hidangan aman dikonsumsi anak-anak. Penguatan standar kebersihan, pengawasan operasional, dan pemutakhiran data menjadi bagian penting untuk menjaga mutu layanan secara berkelanjutan.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat program MBG telah menjangkau 57.491.334 penerima manfaat, dengan dukungan 1.027.998 tenaga kerja dan 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Besarnya skala pelaksanaan menuntut sistem pengawasan yang mampu memastikan setiap tahapan berjalan sesuai standar, mulai dari pengolahan bahan makanan hingga hidangan diterima peserta didik. Karena itu, BGN memperkuat tata kelola agar peningkatan jangkauan tidak mengurangi perhatian terhadap keselamatan penerima manfaat.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, menjelaskan bahwa pembenahan dalam MBG 2.0 merupakan bagian dari tindak lanjut terhadap berbagai aspirasi masyarakat. Evaluasi dilakukan untuk memperbaiki mekanisme kerja, memperketat pengawasan, dan meningkatkan standar penyelenggaraan program. Pendekatan ini menempatkan kualitas makanan dan keamanan penerima manfaat sebagai pertimbangan utama dalam setiap perbaikan kebijakan.
Salah satu langkah penting adalah penguatan standar keamanan pangan melalui kewajiban setiap SPPG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Persyaratan ini menjadi bagian dari upaya memastikan fasilitas pengolahan makanan memenuhi ketentuan kebersihan dan sanitasi. BGN juga memperbarui Perjanjian Kerja Sama untuk memperjelas pembagian tanggung jawab dan memperkuat akuntabilitas para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program.