Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Menjadi Fondasi Pemerataan Pendidikan

Oleh : Rivka Mayangsari*)

Pemerintah terus memperluas program revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki kualitas sarana pendidikan sekaligus memperluas akses terhadap pembelajaran berbasis teknologi. Upaya ini menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam mendorong pemerataan pendidikan, terutama bagi peserta didik yang selama ini menghadapi keterbatasan fasilitas belajar.

Pada 2025, program revitalisasi sekolah berhasil menjangkau 16.167 sekolah, melampaui target awal sebanyak 10.440 sekolah. Pelaksanaan program tersebut memberikan manfaat kepada lebih dari 4,2 juta peserta didik yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Capaian tersebut menunjukkan perluasan perbaikan fasilitas pendidikan di berbagai wilayah, termasuk daerah yang membutuhkan perhatian lebih besar dalam pembangunan sarana belajar.

Memasuki 2026, pemerintah melanjutkan program revitalisasi dengan target perbaikan sebanyak 51.744 sekolah. Prioritas pelaksanaan mencakup sekolah dengan kondisi bangunan rusak berat, sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta satuan pendidikan yang terdampak bencana. Berdasarkan data hingga 28 September 2026, dukungan program telah disalurkan kepada 38.586 sekolah. Pelaksanaan secara bertahap tersebut diharapkan mempercepat pemenuhan kebutuhan ruang belajar yang aman, layak, dan mendukung kegiatan pendidikan.

Presiden Prabowo Subianto juga menargetkan perbaikan sekolah yang membutuhkan penanganan hingga 2029. Target tersebut menempatkan pembenahan infrastruktur pendidikan sebagai salah satu agenda pembangunan jangka menengah. Ketersediaan ruang kelas yang memadai, sanitasi yang baik, serta fasilitas pendukung lainnya menjadi unsur penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan meningkatkan keselamatan peserta didik maupun tenaga pendidik.

Pos terkait