Menurut Sudaryono, salah satu keuntungan utama skema tersebut adalah berkurangnya jeda antara proses memasak dan waktu makan. Hal itu dinilai penting untuk menjaga rasa, kesegaran, sekaligus keamanan makanan.
“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” katanya.
Selain menjaga kualitas dan keamanan pangan, model prasmanan dinilai berpotensi mengurangi makanan terbuang karena siswa dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan.
Sementara itu, Pendiri sekaligus Pembina Pondok Pesantren Segoro Agung, KH Bimo Agus Sunarno, mengapresiasi langkah BGN menguji model tersebut. Menurutnya, prasmanan juga memiliki nilai pendidikan yang dapat memperkuat pembentukan karakter anak.