Oleh Yulianti )*
Upaya Badan Gizi Nasional (BGN) meningkatkan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui uji coba sistem prasmanan patut diapresiasi. Langkah ini menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak berhenti pada perluasan jumlah penerima manfaat, tetapi juga memberi perhatian lebih besar pada mutu makanan, kesegaran, keamanan pangan, serta pengalaman makan yang diterima anak-anak di sekolah.
Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menguji model tersebut di sebagian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hingga awal Oktober, lebih dari 60 dapur telah menjalankan skema prasmanan di kelas. Makanan dibawa dalam kondisi hangat, kemudian disajikan kepada siswa dengan mekanisme yang lebih dekat dengan waktu konsumsi.
Kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh kandungan gizinya. Jarak waktu antara proses memasak, distribusi, hingga makanan dikonsumsi juga menentukan rasa, kesegaran, dan keamanan pangan. Semakin panjang jeda tersebut, semakin besar pula tantangan untuk mempertahankan mutu makanan.
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa model prasmanan yang tengah diuji antara lain ditujukan untuk memangkas jeda tersebut. Pendekatan dapur terpusat atau central kitchen yang sedang dikaji mengambil sejumlah pelajaran dari sistem makan sekolah di Jepang. Makanan diupayakan tiba lebih dekat dengan waktu makan sehingga dapat dikonsumsi dalam kondisi lebih hangat dan segar.
Langkah ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas MBG tidak hanya dilakukan dari sisi menu, tetapi juga sistem distribusi. Dalam program berskala besar, kualitas memang sering kali ditentukan oleh hal-hal yang terlihat teknis. Waktu memasak, jarak distribusi, wadah penyimpanan, suhu makanan, kebersihan peralatan, hingga cara makanan disajikan dapat menentukan apakah standar yang dirancang di atas kertas benar-benar diterima anak dalam bentuk makanan yang layak.