Ramdan juga menyampaikan bahwa prospek ketahanan eksternal Indonesia masih didukung oleh kecukupan cadangan devisa dan peluang masuknya modal asing. Persepsi positif investor terhadap perekonomian nasional serta tingkat imbal hasil investasi yang menarik menjadi faktor pendukung. Oleh karena itu, koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah terus ditingkatkan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi sekaligus menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan. Pengelolaan devisa yang prudent diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor dan memberikan perlindungan terhadap perekonomian dari berbagai risiko global.
Di sisi lain, kinerja perekonomian nasional sepanjang 2026 juga memperlihatkan perkembangan positif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen pada triwulan III-2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen. Peningkatan ini didorong oleh belanja pemerintah yang diperkuat selama triwulan II dan III melalui sejumlah program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP). Airlangga menjelaskan bahwa peningkatan belanja tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Selain konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga juga tumbuh sebesar 5,04 persen dengan kontribusi mencapai 51,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia. Secara keseluruhan, ekonomi nasional tumbuh 5,47 persen pada triwulan III-2026, meningkat dibandingkan triwulan II-2026 yang tercatat sebesar 5,29 persen.