Gentengisasi Prabowo, Memperkuat UMKM dan Menghidupkan Potensi Ekonomi Daerah

Oleh Sulaiman )*

Di tengah upaya memperkuat perekonomian nasional, keberpihakan terhadap industri kecil menjadi salah satu kunci agar pertumbuhan benar-benar dirasakan masyarakat. Indonesia memiliki banyak sentra industri tradisional yang menyimpan potensi ekonomi besar, tetapi belum seluruhnya memperoleh akses pasar dan dukungan memadai. Karena itu, program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto menghadirkan harapan baru bagi kebangkitan ekonomi kerakyatan, sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan nasional dapat bergerak melalui pemberdayaan potensi lokal.

Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menjadi titik awal pelaksanaan program yang diluncurkan pada 8 November 2026 tersebut. Melalui Gentengisasi, pemerintah berupaya menghubungkan kebutuhan material pembangunan perumahan dengan kemampuan produksi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah ini patut mendapat dukungan karena menempatkan pelaku industri lokal sebagai bagian penting dalam rantai pembangunan nasional.

Keseriusan pemerintah terlihat dari rencana pengiriman 2,4 juta keping genteng produksi Majalengka menuju DKI Jakarta, Banten, dan sejumlah wilayah Jawa Barat. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menjelaskan bahwa pengiriman tersebut melibatkan 34 UMKM, berikut para pekerja produksi, pengemudi angkutan, serta tenaga pendukung logistik.

Maruarar juga menekankan pentingnya kesiapan seluruh pihak, mulai dari pemenuhan jumlah dan kualitas produk hingga ketepatan waktu pengiriman. Perhatian terhadap aspek teknis ini menunjukkan bahwa pengembangan industri rakyat membutuhkan tata kelola yang profesional agar mampu memenuhi permintaan dalam skala besar.

Majalengka, khususnya kawasan Jatiwangi, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi genteng tanah liat. Industri tersebut bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Ribuan kehidupan bergantung secara langsung maupun tidak langsung pada keberlangsungan usaha pengolahan tanah liat menjadi bahan bangunan.

Namun, industri tradisional menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persaingan material bangunan, perubahan kebutuhan konsumen, keterbatasan permodalan, dan tuntutan peningkatan kualitas membuat sebagian pengrajin kesulitan memperluas usahanya.

Dalam situasi tersebut, Gentengisasi menawarkan peluang untuk menghidupkan kembali aktivitas produksi sekaligus memperluas pasar. Permintaan dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan pendapatan pengrajin, membuka kesempatan kerja, serta menggerakkan sektor transportasi dan perdagangan bahan baku.

Bacaan Lainnya

Pos terkait