Menurut BI, tingkat cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, menjaga stabilitas makroekonomi, serta memperkuat sistem keuangan. Ramdan Denny Prakoso juga menegaskan keyakinan bank sentral bahwa kondisi eksternal Indonesia ke depan akan tetap baik dengan dukungan cadangan devisa yang cukup. Bank Indonesia memperkirakan aliran masuk modal asing berpeluang berlanjut karena investor masih melihat prospek ekonomi nasional secara positif dan tingkat imbal hasil investasi Indonesia tetap menarik.
Meski demikian, Bank Indonesia menekankan pentingnya memperkuat sinergi bersama pemerintah untuk mempertahankan stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Langkah tersebut diperlukan agar cadangan devisa tidak hanya berfungsi sebagai pelindung ketika terjadi tekanan, tetapi juga mendukung kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Dari sisi perdagangan, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut Indonesia masih mencatat surplus kumulatif sebesar USD10,61 miliar hingga September 2026. Surplus tersebut terbentuk dari kinerja perdagangan nonmigas yang membukukan kelebihan USD34,21 miliar sehingga mampu menutup defisit perdagangan migas sebesar USD23,60 miliar. Budi menilai capaian itu mencerminkan daya tahan sektor eksternal Indonesia di tengah perubahan kondisi ekonomi dunia.
Ia juga menyampaikan bahwa kekuatan sektor nonmigas ditopang daya saing komoditas nasional dan hubungan perdagangan yang terjalin dengan sejumlah mitra utama. Hal ini menegaskan pentingnya perluasan pasar dan peningkatan kualitas produk dalam negeri. Menurut Budi, keberhasilan mempertahankan surplus perdagangan tidak terlepas dari performa sektor nonmigas serta kerja sama strategis dengan negara-negara mitra dagang Indonesia.