Oleh: Arif Laksono)*
Penurunan jumlah titik panas dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) patut dicatat sebagai perkembangan positif. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional turun menjadi 96 titik dari 160 titik pada hari sebelumnya. Penurunan tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan pengendalian karhutla, yang selanjutnya perlu diikuti dengan pemantauan kondisi lapangan dan pemulihan kawasan terdampak.
Dinamika di wilayah prioritas menunjukkan bahwa kewaspadaan belum dapat dikendurkan. Dari enam provinsi prioritas, terdeteksi 19 hotspot high confidence, dengan Kalimantan Tengah mencatat 15 titik, Sumatra Selatan 3 titik, dan Kalimantan Selatan 1 titik. Kalimantan Tengah mencatat 15 titik hotspot, meningkat dari 12 titik pada hari sebelumnya, sehingga pemantauan dan penanganan di wilayah tersebut terus menjadi perhatian.
Perlu dipahami pula bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dari satelit, sehingga tidak dapat disamakan dengan jumlah kejadian atau luas area terbakar. Karakter gambut memungkinkan bara bertahan di bawah permukaan meski api tidak terlihat, sehingga pembasahan, penyisiran bara, dan patroli harus terus berjalan.
Pemerintah merespons dinamika tersebut dengan langkah yang konkret. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung kawasan bekas kebakaran di Kalimantan Tengah menggunakan drone dan pemeriksaan di lapangan. Dalam peninjauan itu, tim memasang papan peringatan larangan aktivitas pertambangan di dalam kawasan hutan, memeriksa kendaraan di sekitar lokasi, serta mengecek temuan kayu.
Menurut Menhut, pemasangan plang di kawasan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan yang telah dikenai sanksi merupakan bagian dari pengamanan kawasan yang membutuhkan pengawasan dan pemulihan. Ia menegaskan, kawasan hutan yang pernah terbakar tidak boleh menjadi ruang bagi aktivitas ilegal.