Oleh: Savitri Nina Nalahia *)
Pemerintah memperkuat pemerataan layanan kesehatan nasional melalui penyediaan 1.000 beasiswa pendidikan dokter dan dokter gigi spesialis, perluasan penempatan residen di fasilitas kesehatan prioritas, serta pengembangan pendidikan kedokteran di berbagai wilayah. Kebijakan ini diharapkan mampu mengatasi kekurangan tenaga medis, memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan berkualitas, dan mengurangi kesenjangan kesehatan antara perkotaan dan daerah yang masih menghadapi keterbatasan tenaga spesialis.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengembangkan ketiga inisiatif tersebut sebagai kelanjutan Program Akselerasi Peningkatan Akses dan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Diktisaintek Berdampak serta dukungan terhadap Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pemerintah di bidang kesehatan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menegaskan bahwa penambahan program studi harus berjalan seiring dengan pemerataan tenaga medis dan peningkatan kualitas pelayanan. Oleh karena itu, akselerasi pendidikan dokter spesialis perlu diperkuat agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara lebih merata.
Sejak diluncurkan pada 22 Juli 2025, program tersebut mencatat kemajuan yang melampaui target pemerintah. Sasaran pembukaan 148 program studi pendidikan dokter spesialis dan subspesialis berhasil dilewati melalui penambahan 185 program studi. Jumlah keseluruhan program studi pun meningkat dari 366 menjadi 551, sedangkan peserta pendidikan dokter spesialis mencapai sekitar 24.000 orang pada 2026. Perluasan ini turut membuka akses pendidikan di 11 provinsi yang sebelumnya belum memiliki program pendidikan tersebut, termasuk Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua, serta menghadirkan enam bidang subspesialis baru.