Oleh: Dwi Saputri)*
Hilirisasi menjadi salah satu agenda strategis Indonesia dalam memperkuat kemandirian ekonomi, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, dan memperluas peran nasional dalam rantai pasok global. Melalui pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi, Indonesia tidak hanya berupaya meningkatkan ekspor, tetapi juga membangun fondasi industri yang mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai US$50 miliar pada akhir 2026. Proyeksi tersebut mencakup produk olahan nikel, aluminium, serta komponen baterai litium yang menunjukkan perkembangan signifikan. Apabila target tersebut tercapai, nilai ekspor produk hilirisasi akan meningkat hampir 45 persen dibandingkan capaian 2024 yang tercatat sekitar US$34,5 miliar. Angka ini menggambarkan besarnya peluang Indonesia untuk meningkatkan daya saing melalui penguatan industri pengolahan di dalam negeri.
Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, menjelaskan bahwa perkembangan hilirisasi kini semakin beragam. Jika sebelumnya perhatian banyak tertuju pada industri nikel, kajian terbaru DEN menunjukkan bahwa aluminium dan komponen baterai litium turut memberikan kontribusi yang semakin besar. Perkembangan tersebut memperlihatkan peluang Indonesia untuk membangun struktur industri yang lebih kuat, beragam, dan memiliki ketahanan terhadap perubahan permintaan pasar global.