Oleh Herlina Dwiyani )*
Indonesia merupakan negara dengan bentang alam yang luar biasa sekaligus memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Letaknya di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire membuat ancaman gempa bumi, erupsi gunung api, tsunami, tanah longsor, banjir, hingga kekeringan menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi secara serius. Dalam kondisi tersebut, ukuran keberhasilan pemerintah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mencegah bencana, tetapi juga oleh seberapa cepat negara hadir ketika masyarakat berada dalam situasi darurat.
Respons pemerintah terhadap sejumlah bencana yang terjadi di berbagai daerah menunjukkan bahwa negara tidak tinggal diam ketika rakyat terdampak. Kecepatan pengerahan personel, peralatan, bantuan, serta dukungan terhadap pemulihan infrastruktur menjadi bukti bahwa penanganan bencana membutuhkan negara yang sigap dan memiliki kemampuan mobilisasi sumber daya secara besar-besaran.
Presiden Prabowo Subianto melihat pengalaman penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sebagai pembelajaran penting bagi pemerintah. Menurut Prabowo, respons pemerintah saat ini sudah semakin cepat dan masif dibandingkan dengan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya. Penilaian tersebut sekaligus menjadi pijakan untuk memperkuat kapasitas penanggulangan bencana pada masa mendatang. Karena itu, Presiden Prabowo Subianto berencana untuk meningkatkan alokasi anggaran mitigasi bencana secara signifikan.
Mitigasi bukan sekadar pos anggaran tambahan, melainkan investasi untuk menyelamatkan masyarakat dan mengurangi beban negara ketika bencana terjadi. Pembangunan infrastruktur yang tahan bencana, penguatan sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan, edukasi masyarakat, penyediaan jalur evakuasi, hingga peningkatan kapasitas pemerintah daerah merupakan bagian penting dari mitigasi yang harus dilakukan secara berkelanjutan.