Dari Kalondama ke Ampera, Perjalanan Menjemput Mimpi

Nensi Sarina Aulu Goru (Murid Baru SMK Negeri Ampera, Jurusan Keperawatan)

ANGIN pagi masih dingin menusuk tulang ketika aku melangkah keluar dari rumah di Desa Kalondama, Latuna, Pantar Barat Kabupaten Alor. Jam 5 subuh, mama berdiri di pintu sambil membawa nasi bungkus. Bapa mengangkat tasku ke motor.

“Nensi, jaga diri baik-baik ya. Belajar rajin. Bikin mama dan bapa bangga,” bisik mama sambil memeluk aku erat.

Aku hanya bisa mengangguk. Tenggorokan rasanya tercekat.

Bacaan Lainnya

Hari itu aku pamit. Pamitan dengan kampung, dengan suara ayam yang setiap pagi membangunkan aku, dengan semua orang yang menyayangiku.

Tas di punggung hanya berisi baju, buku, dan segudang harapan.

Perjalanan pertama menuju Pelabuhan Baranusa. Itu tidak mudah. Jalannya rusak, berlubang, dan naik turun. Motor yang kami tumpangi oleng ke kiri dan ke kanan. Debu masuk ke mata.

“Bapa, bisa pelan-pelan?” teriakku.

“Ini sudah pelan, Nensi. Kalau cepat, bisa masuk jurang.” Bapa menjawab.

Puji Tuhan, setelah hampir 2 jam kami sampai dengan selamat.

Sesampainya di pelabuhan kami mendapat informasi bahwa kapal berangkat jam 9 pagi. Kami berangkat dari kampung jam 8, dan aku berpikir pasti keburu. Namun petugas mengatakan, “Kapal baru jalan jam 3 sore.”

Dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore, aku menunggu selama 7 jam. Aku duduk di lantai pelabuhan, bersandar di tiang. Melihat orang menjual gorengan, melihat anak-anak bermain, dan memandangi laut yang tenang.
Dalam hati aku berkata, “Ini harga untuk sekolah. Sabar.”

Pada jam 4 sore, akhirnya terdengar suara sirine. Kapal datang. Kami segera naik. Awalnya laut tenang, tetapi 30 menit kemudian laut mulai bergelombang tinggi. Kapal oleng ke kanan dan ke kiri. Ada penumpang yang muntah, ada yang berteriak. Aku memegang erat tasku dan berdoa, “Tuhan, tolong antarkan aku sampai Kalabahi.”

Karena takut dan lelah, aku tertidur. Ketika terbangun terdengar pengumuman.
“Pelabuhan Kalabahi sudah dekat.”
Begitu kaki menginjak daratan, rasanya lega. Lututku lemas, tetapi aku tersenyum.
“Akhirnya sampai.”

Pada tanggal 2 Juli 2026 adalah hari pertama aku resmi menjadi siswa SMK Negeri Ampera. Gerbang sekolah yang besar dengan spanduk “Selamat Datang Siswa Baru” membuat jantungku berdebar. Ini adalah sekolah impian sejak SMP. Di sini aku mendapatkan teman baru, guru baru, dan rumah baru yaitu Asrama.

Malam pertama di asrama aku menangis pelan di bawah selimut karena rindu mama dan makanan rumah. Namun keesokan harinya aku bangun paling awal. Aku belajar memasak nasi sendiri, mencuci baju dengan tangan, dan mengatur jadwal sendiri. Awalnya terasa berat, tetapi seminggu kemudian aku merasa bangga. Ternyata aku bisa. Inilah alasan aku memilih SMK Ampera. Aku ingin mandiri.

Pada tanggal 3 Juli 2026 adalah hari tes pembagian jurusan. Ruang tes penuh dengan siswa baru. Tanganku dingin karena gugup.

“Bagaimana kalau tidak lulus Keperawatan?” pikirku.

Satu per satu nama dibacakan.
“Nensi Sarina Aulu Goru. Lulus jurusan Keperawatan”.

Aku langsung menutup mulut. Air mata jatuh.
“Makasih Tuhan! Makasih Mama, Makasih Bapak!”, ungkapku dalam hati.

Langkah pertama untuk menjadi perawat sudah dimulai. Aku ingin membantu orang dan membuat Kalondama bangga. Kemudian tibalah tanggal 6 sampai 10 Juli 2026, masa MPLS selama 5 hari, yang mengubahku. Hari pertama di aula yang penuh, materi disampaikan oleh Kepolisian ABAL tentang ”Bahaya Judi Online dan NAPZA”. Pak polisi memutar video tentang anak muda yang masa depannya hancur. Satu kelas hening.

“Anak-anak, sekolah ini tempat kalian bermimpi. Jangan rusak dengan hal sesaat.”, ungkap Pak Pol.

Aku menulis di bukuku dengan kalimat, Jaga nama baik Kalondama.

Hari kedua pagi yang cerah. Bapak Gusti Omkang Hingmane, S.Pd., Gr mengajarkan tentang 5S: Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun.

“Kecil? Iya. Tapi ini yang membuat orang sayang dengan kalian”, ungkapku dalam hati.

Setelah itu, Ibu Siti H. Samau, S.Pd, ia menyampaikan materi tentang Profil Lulusan SMK Ampera. Ternyata lulusan di sini bisa bekerja di RS, Puskesmas, bahkan melanjutkan kuliah. Setelah itu, kami belajar tentang Keadaban Digital.

“Jempol kalian adalah senjata. Gunakan untuk hal baik.”, ungkap pak Udin.

Hari ketiga diisi dengan materi Asesmen Literasi & Numerasi. Dari situ aku belajar bahwa, belajar yang efektif adalah satu jam secara konsisten setiap hari, bukan dengan begadang. Kegiatan paling seru adalah Pengenalan OSIS, MPK dan Ekstrakurikuler bersama Pak Roi. Ada OSIS, MPK dan kegiatan ekstrakurikuler, ada seni tari, pramuka, jurnalistik dan Bahasa Inggris.

“Tahun depan kita daftar ya.” Aku berbisik kepada teman.

“Deal”, dia menjawab.

Hari keempat semua kegiatan dipandu langsung oleh Bapak/Ibu Guru. Ada latihan Baris Berbaris. Cuacanya panas dan kaki terasa pegal, tetapi kami tetap kompak.
“Gerak, tegak!”, terdengar komando dari Bapak Guru dan kami berjalan dengan satu irama. Setelah itu, kami latihan upacara. Kami belajar cara hormat dan cara membawa bendera. Guru dengan sabar mengajari sampai semua bisa.

Hari itu menjadi penutup MPLS kami.


Di sela-sela MPLS itu, aku sering teringat kerja keras mama dan bapa di kampung. Setiap pagi bapa berangkat kerja sebelum matahari terbit, pulang saat badan sudah lelah, hanya untuk memastikan aku bisa sekolah. Mama bangun lebih awal untuk memasak, mencuci, dan mengurus semua kebutuhan rumah, lalu masih sempat menitipkan nasi bungkus untuk bekalku.

Mereka tidak pernah mengeluh, meski hidup di kampung itu tidak mudah. Dari merekalah aku belajar arti kerja keras dan pantang menyerah. Aku berjanji dalam hati, semua lelah dan pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. Aku harus jadi perawat yang hebat. Aku harus membuat mereka bangga.


Dari jalan rusak Kalondama, 7 jam menunggu di Baranusa, laut yang mengombang-ambingkan, sampai akhirnya duduk rapi di kelas SMK Ampera. Semua itu adalah bagian dari perjalanan. Aku bukan lagi anak kampung yang hanya bisa bermimpi. Aku sekarang Nensi Sarina Aulu Goru, siswa SMK Negeri Ampera, calon perawat, dan anak asrama yang belajar mandiri.

Mimpi itu jauh, tapi kalau kita terus berjalan, pasti sampai. Terima kasih Kalondama untuk akarnya. Terima kasih Ampera untuk sayapnya. (*)

Pos terkait