ANGIN pagi masih dingin menusuk tulang ketika aku melangkah keluar dari rumah di Desa Kalondama, Latuna, Pantar Barat Kabupaten Alor. Jam 5 subuh, mama berdiri di pintu sambil membawa nasi bungkus. Bapa mengangkat tasku ke motor.
“Nensi, jaga diri baik-baik ya. Belajar rajin. Bikin mama dan bapa bangga,” bisik mama sambil memeluk aku erat.
Aku hanya bisa mengangguk. Tenggorokan rasanya tercekat.
Hari itu aku pamit. Pamitan dengan kampung, dengan suara ayam yang setiap pagi membangunkan aku, dengan semua orang yang menyayangiku.
Tas di punggung hanya berisi baju, buku, dan segudang harapan.
Perjalanan pertama menuju Pelabuhan Baranusa. Itu tidak mudah. Jalannya rusak, berlubang, dan naik turun. Motor yang kami tumpangi oleng ke kiri dan ke kanan. Debu masuk ke mata.
“Bapa, bisa pelan-pelan?” teriakku.
“Ini sudah pelan, Nensi. Kalau cepat, bisa masuk jurang.” Bapa menjawab.
Puji Tuhan, setelah hampir 2 jam kami sampai dengan selamat.
Sesampainya di pelabuhan kami mendapat informasi bahwa kapal berangkat jam 9 pagi. Kami berangkat dari kampung jam 8, dan aku berpikir pasti keburu. Namun petugas mengatakan, “Kapal baru jalan jam 3 sore.”
Dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore, aku menunggu selama 7 jam. Aku duduk di lantai pelabuhan, bersandar di tiang. Melihat orang menjual gorengan, melihat anak-anak bermain, dan memandangi laut yang tenang.
Dalam hati aku berkata, “Ini harga untuk sekolah. Sabar.”
Pada jam 4 sore, akhirnya terdengar suara sirine. Kapal datang. Kami segera naik. Awalnya laut tenang, tetapi 30 menit kemudian laut mulai bergelombang tinggi. Kapal oleng ke kanan dan ke kiri. Ada penumpang yang muntah, ada yang berteriak. Aku memegang erat tasku dan berdoa, “Tuhan, tolong antarkan aku sampai Kalabahi.”
