BAUMI, WARTAALOR.COM – Kelompok Tani Milenial Kapowasing yang berlokasi di Baumi, Desa Lembur Timur, Kecamatan Lembur, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi dikukuhkan oleh Kepala Desa Lembur Timur, Apeles Maiten, pada Senin (16/3/2026). Pengukuhan tersebut dirangkaikan dengan kegiatan panen simbolis tanaman tomat varietas Servo yang menjadi salah satu komoditas utama kelompok tani tersebut.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Alor, Harun Rasid Miran; Anggota DPRD Kabupaten Alor dari Fraksi Partai NasDem sekaligus Wakil Ketua Komisi II DPRD Alor, Joni Tulimau; Camat Lembur, Isyaq Samau; Ketua Tim Kerja Kementerian Pertanian Kabupaten Alor; Penjabat Kepala Desa Persiapan Baumi; para penyuluh pertanian; tokoh masyarakat; serta anggota Kelompok Tani Milenial Kapowasing.
Dalam sambutannya, Anggota DPRD Kabupaten Alor, Joni Tulimau, menekankan pentingnya kebersamaan dan solidaritas antaranggota kelompok dalam mengembangkan usaha pertanian.
Ia juga mendorong agar kelompok tersebut dapat menambah jumlah anggota sehingga usaha pertanian yang dijalankan dapat berkembang lebih luas dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
“Tadi dalam laporan disebutkan masih ada kekurangan anggota. Silakan direkrut tambahan anggota agar usaha pertanian ini bisa berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kelompok,” ujarnya.
Menurut Joni, usaha pertanian yang digagas oleh kelompok milenial ini memiliki prospek yang sangat baik jika dikelola secara serius dan berkelanjutan. Ia menilai potensi lahan yang dimanfaatkan sangat mendukung untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian.
Lebih lanjut, Joni Tulimau menyampaikan bahwa kegiatan usaha seperti ini juga mendapat perhatian dari Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat, karena memiliki hasil produksi yang nyata dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa apabila kelompok tani membutuhkan sarana pendukung seperti sumur bor untuk pengairan lahan pertanian, maka dapat diajukan melalui proposal kepada Julie Sutrisno Laiskodat untuk diperjuangkan melalui program bantuan pemerintah pusat.
“Lahan yang dikelola kelompok ini sangat baik dan berpotensi menjadi percontohan bagi kelompok tani lainnya. Karena itu pemerintah desa diharapkan mendorong anak-anak muda untuk memanfaatkan lahan yang ada dan berkreasi di sektor pertanian,” kata Joni.
Ia juga menyinggung peluang besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini digalakkan pemerintah. Menurutnya, program tersebut memiliki anggaran yang cukup besar untuk pengadaan bahan pangan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan sehingga dapat menjadi pasar potensial bagi kelompok tani.
“Kita harus menjemput bola. Program MBG ini sangat baik karena membuka peluang bagi kelompok tani untuk menjadi pemasok bahan baku sayur dan buah,” tambahnya.
Joni menegaskan bahwa Partai NasDem secara konsisten memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai sektor usaha produktif, mulai dari pertanian, perikanan, peternakan, hingga usaha kecil lainnya.
“Sehingga apa saja yang menjadi kebutuhan bisa diusulkan dalam bentuk proposal, agar dikawal anggota DPRD Fraksi Partai NasDem secara berjenjang mulai dari kabupaten, provinsi hingga pusat. Usulan bisa langsung ke anggota DPRD Fraksi NasDem, atau bisa melalui rumah aspirasi yang sudah dibentuk di setiap kecamatan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Alor, Harun Rasid Miran, mengingatkan para penyuluh pertanian agar terus melakukan pendampingan terhadap kelompok tani. Menurutnya, dinamika perkembangan kelompok tani tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada kelompok, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif dari penyuluh sebagai pendamping.
“Perkembangan kelompok tani sangat dipengaruhi oleh pendampingan dari penyuluh. Karena itu saya berharap teman-teman penyuluh terus memberikan pembinaan,” ujarnya.
Harun Rasid Miran menjelaskan bahwa sebagian besar kelompok tani terbentuk dengan semangat dan tekad untuk memperbaiki kondisi ekonomi, namun seringkali masih memiliki keterbatasan dalam aspek manajemen organisasi dan pengelolaan usaha tani.
“Motivasi mereka membentuk kelompok adalah bagaimana kehidupan bisa lebih baik. Tetapi secara teknis, bagaimana mengelola dan mengorganisasikan kelompok masih menjadi tantangan. Karena itu peran penyuluh sangat penting,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kementerian Pertanian Kabupaten Alor juga memberikan motivasi kepada anggota Kelompok Tani Milenial Kapowasing yang mayoritas terdiri dari generasi muda.
Ia menekankan pentingnya pemahaman tentang makna berkelompok, tujuan organisasi, serta membangun kerja sama yang solid agar usaha pertanian yang dijalankan dapat berkembang dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Kelompok Tani Milenial Kapowasing, Manase Kesamai, menyampaikan laporan perkembangan kelompok. Ia menjelaskan bahwa kelompok tersebut saat ini memiliki 10 anggota yang terbagi dalam beberapa divisi kerja, yaitu divisi tanam, panen, pemasaran, dan keuangan.
Kelompok ini mengelola lahan seluas sekitar 10 hektare dengan sistem tanam bergilir. Komoditas yang dibudidayakan meliputi padi, jagung, dan tomat. Saat ini terdapat sekitar 4.000 pohon tomat yang telah ditanam.
“Untuk produksi tomat sejak Desember 2025 hingga Maret 2026, kami telah menghasilkan sekitar 480 kilogram yang dipasarkan ke Pasar Kadelang dan Pasar Tabakar,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa para anggota kelompok menjalankan kegiatan usaha tani secara swadaya dan belajar secara otodidak melalui berbagai sumber, termasuk media digital seperti YouTube.
Meski demikian, kelompok tani ini masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya keterbatasan akses modal, keterampilan teknis pengelolaan lahan yang masih perlu ditingkatkan, serta risiko cuaca ekstrem yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
Ke depan, kelompok tani tersebut berencana memperluas lahan tanam tomat hingga satu hektare serta mengajukan sejumlah bantuan sarana dan prasarana, seperti alat semprot (handsprayer), tandon air berkapasitas 3.200 liter, drum fiber, selang air, mesin perontok padi, mesin pemipil jagung, serta pembangunan satu unit sumur bor.
Selain itu, kelompok juga berencana mengadakan pelatihan pengelolaan keuangan dan pemasaran digital bagi para anggota guna meningkatkan kapasitas manajemen usaha.
Manase Kesamai berharap dengan dukungan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta berbagai pihak terkait, Kelompok Tani Milenial Kapowasing dapat terus berkembang dan menjadi contoh bagi kelompok tani lainnya di Desa Lembur Timur.
“Semoga kelompok tani ini dapat terus berkembang, meningkatkan kesejahteraan anggota, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terjun ke sektor pertanian,” pungkasnya. ***(joka)
