Kalabahi, wartaalor.com – Proyek pembangunan satu unit gedung perpustakaan desa di Pulau Kangge, Desa Marisa, Kecamatan Pantar Barat Laut (PBL), Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menuai sorotan dan kritik dari warga setempat. Pasalnya, pekerjaan fisik bangunan tersebut hingga kini belum sepenuhnya rampung, namun pencairan anggaran kepada pihak ketiga disebut telah dilakukan secara penuh.
Proyek yang dibiayai melalui Dana Desa Tahun Anggaran 2024 tersebut dikerjakan oleh pihak ketiga, CV Chanurrawural Onong Touk, dengan nilai anggaran lebih dari Rp 200 juta. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga, progres pembangunan gedung perpustakaan desa tersebut baru mencapai sekitar 80 hingga 90 persen, sehingga dinilai belum layak untuk difungsikan.
Seorang warga Desa Marisa yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyampaikan bahwa meskipun pekerjaan belum tuntas, pembayaran kepada kontraktor diduga telah direalisasikan 100 persen.
“Pekerjaan tahun 2024, Realisasi Anggaran 100%. Silpa tahun 2025 atas pekerjaan itu sebesar Rp 124.376.570 (cair 40%). Sedangkan di tahun 2024 Cair sebesar Rp 186.564.840 (cair 60%),” ujar warga tersebut.
Menurutnya, terdapat ketidaksesuaian antara progres fisik di lapangan dengan realisasi anggaran yang telah dibayarkan. Ia menegaskan bahwa secara kasat mata, sisa pekerjaan masih cukup signifikan, terutama pada bagian penyempurnaan bangunan.
Selain itu, warga juga mengeluhkan adanya dugaan upah tukang yang belum sepenuhnya dibayarkan oleh pihak kontraktor. Oleh karena itu, warga mendesak agar CV Chanurrawural Onong Touk bertanggung jawab dengan menyelesaikan seluruh sisa pekerjaan sesuai kontrak, sekaligus menuntaskan kewajiban pembayaran upah tenaga kerja.
Sementara itu, Kepala Desa Marisa, Darsono Magi, saat dikonfirmasi wartawan melalui sambungan WhatsApp pada Rabu, 17 Desember 2025, membenarkan bahwa proyek pembangunan gedung perpustakaan desa tersebut belum sepenuhnya rampung, meskipun pembayaran kepada kontraktor telah dilakukan secara penuh.
“Pembangunan gedung perpustakaan desa itu pada dasarnya sudah selesai. Hanya tinggal pemasangan daun jendela yang belum dipasang. Saya sudah meminta kontraktor untuk segera menyelesaikan sisa pekerjaan tersebut,” ujar Darsono.
Ia menjelaskan bahwa pekerjaan fisik gedung perpustakaan dilaksanakan pada Oktober 2024 dan sisa pekerjaan yang belum diselesaikan dinilainya hanya sebagian kecil. Namun demikian, pihaknya tetap meminta kontraktor untuk segera menuntaskan pekerjaan tersebut, mengingat waktu yang tersisa menuju akhir tahun 2025 sangat terbatas.
Terkait isu tunggakan upah tukang, Darsono dengan tegas membantah adanya keterlambatan pembayaran. Menurutnya, seluruh upah tenaga kerja telah dibayarkan sesuai dengan volume pekerjaan yang telah diselesaikan.
“Kalau soal upah tukang, itu tidak benar. Upah sudah dibayarkan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Informasi soal tunggakan upah itu tidak benar,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor CV Chanurrawural Onong Touk belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan progres pekerjaan yang belum tuntas maupun dugaan tunggakan upah tenaga kerja. Warga berharap pemerintah desa dan pihak terkait dapat melakukan pengawasan dan memastikan proyek tersebut diselesaikan secara tuntas agar dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Marisa. ***(joka)
