Oleh: Anak Pegunungan Papua
Hati saya mendidih dan dada ini sesak luar biasa menyaksikan kelakuan biadab gerombolan bersenjata di tanah kelahiran kita sendiri. Selama bertahun-tahun, mereka berkoar-koar menjual narasi suci tentang perjuangan kemerdekaan dan pembelaan hak-hak Orang Asli Papua (OAP). Namun, tragedi berdarah yang menimpa saudara-saudari kita di Distrik Jila, Mimika, membuka topeng kemunafikan mereka selebar-lebarnya. Ini bukan perjuangan bangsa, melainkan aksi kriminalitas biadab dari sekumpulan penjahat bersenjata yang tega menginjak-injak harkat dan martabat tanah leluhur!
Tengoklah apa yang mereka perbuat pada momentum 17 Agustus lalu. Gerombolan faksi John Lokbere dan Prisko Lokbere tidak hanya menyerang pos aparat keamanan, tetapi melampiaskan kebiadaban mereka kepada kaum yang paling lemah: mama-mama dan anak-anak gadis kita. Mereka mendatangi honai perempuan dan mencegat anak-anak perempuan Suku Amungme yang hendak beraktivitas damai di kampungnya sendiri. Sebanyak sembilan anak gadis kita diseret secara paksa. Ketika seorang ibu, Mama Neregingget Magai, berusaha sekuat tenaga melindungi dan menahan anak perempuannya agar tidak dibawa lari, moncong senjata mereka tanpa ampun memuntahkan peluru ke perut sang mama hingga roboh bersimbah darah dan tewas seketika. Jenazahnya diseret layaknya binatang ke semak-semak, sementara seorang warga lainnya yang mencoba mengejar dijatuhkan ke jurang hingga patah kaki.