Oleh: Nadira Citra Maheswari)*
Indonesia memasuki babak baru dalam membangun sistem energi nasional yang tangguh, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan jangka panjang. Pengembangan energi nuklir menjadi salah satu bagian dari arah tersebut melalui target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berkapasitas 7 gigawatt (GW).
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo mengatakan bahwa Indonesia menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berkapasitas 7 gigawatt (GW). Pembangunan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Di samping pengembangan energi nuklir, pemerintah juga menetapkan target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 gigawatt peak (GWp). Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan ketersediaan energi yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Target tersebut hadir di tengah kebutuhan listrik Indonesia yang terus meningkat. Pemerintah memproyeksikan kebutuhan listrik nasional akan meningkat secara signifikan hingga mencapai 600 TWh pada 2030, sementara konsumsi listrik per kapita diperkirakan mendekati 2.000 kWh. Peningkatan kebutuhan tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, perluasan industri, pembangunan kawasan baru, serta meningkatnya aktivitas masyarakat yang bergantung pada energi listrik.
Hashim menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk dikembangkan sebagai sumber energi baru dan terbarukan (EBT). Menurutnya, pemerintah berkewajiban menyediakan pasokan listrik yang andal sehingga masyarakat, termasuk yang berada di wilayah terpencil, dapat memperoleh akses terhadap fasilitas dasar.
Dalam konteks tersebut, energi nuklir menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat bauran pembangkitan nasional. PLTN dapat memasok listrik secara berkesinambungan dan melengkapi sumber energi terbarukan yang produksinya dipengaruhi kondisi alam. Pengembangan PLTN 7 GW juga berjalan beriringan dengan target PLTS hingga 100 GWp sebagai bagian dari diversifikasi sumber pembangkitan.