Semangat Kartini dan Peran Perempuan dalam Membangun Perdamaian di Alor

PERKENALKAN, saya menulis ini bukan sebagai orang yang paling tahu. Saya menulis karena saya anak Alor. Saya besar dari masakan mama, dari cerita mama, dan dari doa mama. Maka hari ini, izinkan saya bicara tentang mama. Tentang perempuan. Tentang Damai.

Setiap 21 April kita menyebut nama R.A. Kartini. Kita pakai kebaya, kita lomba masak, kita baca surat-suratnya, baca buku – bukunya, baca quotes – quotesnya. Tapi Kartini bukan tentang baju. Kartini tentang Terang. Tentang keberanian satu perempuan untuk berkata: “Kami juga bisa mengubah keadaan.”

Pertanyaan saya: kalau Kartini hidup di Alor hari ini, Kartini akan bikin apa?

Saya yakin, Kartini akan ke sumur. Akan ke Pasar Kadelang. Akan ke Posyandu. Karena di Alor, terang itu tidak hanya dari lampu. Terang itu dari mama-mama yang menjaga kampung tetap adem.

Alor ini indah. Tapi Alor juga rawan. Kita punya belasan suku dan bahasa. Dari Abui, Kabola, Kui, sampai Kolana. Gereja dan Masjid berdiri bersebelahan. Ini karunia. Tapi juga ujian.

Sejarah mencatat, konflik di Alor sering mulai dari hal kecil: batas kebun, rebutan mata air, salah paham di media sosial, ejekan logat anak sekolah. Yang bayar mahal siapa? Kita semua. Anak takut ke sekolah. Mama takut ke pasar. Kampung jadi dingin.

Lalu siapa yang pertama padamkan api? Pengalaman bilang: Perempuan.

Saya bagi tiga tempat perempuan Alor jadi agen perdamaian.

Bacaan Lainnya

Pertama: Di dalam rumah. Keluarga adalah sekolah “Damai” pertama.

Anak tidak lahir bawa benci. Anak belajar benci dari orang dewasa. Maka tugas mama adalah mengajar sebaliknya.

Caranya sederhana. Waktu makan malam, tanya ke anak: “Tadi di sekolah main dengan siapa? Sebut tiga teman yang beda suku dengan ko.” Lalu tanya, “Dia baik apa?” Kalau kepala anak penuh nama-nama teman, kebencian tidak punya tempat.

Mama juga yang jaga tungku. Banyak konflik datang dari periuk kosong. Maka mama yang kelola arisan, yang tenun, yang jual ikan di pasar, sebenarnya sedang jaga “Damai”. Karena perut kenyang, hati tenang.

Di Pantar ada contohnya. Mama-mama beda suku bikin kelompok tenun. Sambil tenun, mereka selesaikan masalah suami-suami yang ribut soal perahu. Tenun jadi, damai juga jadi. Itu Kartini Alor.

Kedua: Di sekolah. Tempat menyemai toleransi.

Pos terkait