Data bilang, 22 dari 100 anak SMP di Alor tidak sekolah. Mereka ini yang paling gampang tersulut. Maka guru perempuan dan siswi punya tugas penting.
Bu Guru, kalau dengar ada siswa ejek logat temannya, jangan diam. Bilang begini: “Di Alor ada banyak bahasa. Ko bisa berapa?” Ubah ejekan jadi tawa. Ubah tawa jadi rasa ingin tahu.
Adik-adik OSIS putri, kalian bisa jadi duta damai. Kalau lihat ada dua kelompok mau baku hantam, jangan takut. Datang, ajak main bola. Ajak masak pop mie sama – sama, nikmati bersama. Tawuran batal karena lapar diganti kenyang.
Ketiga: Di masyarakat. Diplomasi dari Dapur ke Pasar.
Alor ada tiga “parlemen” yang dikuasai mama-mama.
Satu: Sumur. Dua: Pasar. Tiga: Rumah Ibadah.
Di sumur, info lebih cepat dari grup WA. Kalau ada hoaks “desa sebelah mau serang”, mama-mama yang pertama bisa cek. Karena mama kenal mama di desa sebelah. Mereka ketemu tiap minggu di pasar.
Di Pasar Kadelang, orang beli ikan tidak tanya, “Ko agama apa?” Yang ditanya, “Ikan segar ko tidak?” Ekonomi itu jembatan. Maka mama pedagang adalah penjaga jembatan.
Di Gereja dan Masjid, siapa yang atur konsumsi kalau ada acara? Mama-mama.
Dan tradisi kita hebat: Lebaran, Keluarga Kristen bantu masak. Natal pun keluarga Muslim datang baleta. Dapur Damai itu sudah ada dari dulu. Tinggal kita jaga.
Dalam adat pun sama. Orang bilang “ina ama” atau mama tua, suaranya didengar. Jadi kalau ada rapat adat soal tanah, soal denda, mama harus ada di dalam. Karena yang paling tahu harga damai adalah yang paling sakit kalau ada perang.
Saya tahu tugas perempuan Alor berat. Pagi ke kebun, siang ambil air, sore urus anak, malam tenun. Mau rapat damai pun tidak sempat. Karena itu, pesan damai jangan dibikin acara sendiri. Selipkan di posyandu. Selipkan di arisan. Selipkan di kelompok tenun.
Damai itu bukan proyek. Damai itu cara hidup yang menghidupkan.
