Tantangannya: masih ada yang bilang, “Perempuan urus dapur saja.” Jawaban kita sederhana: “Justru karena kami urus dapur, kami tahu kalau kampung baku hantam, yang pertama lapar itu anak-anak akibat baku hantam karena semua takut ke pasar, untuk belanja dan berjualan.”
Maka saya tutup dengan tiga ajakan.
Untuk Pemerintah dan Desa: setiap kali bikin program, libatkan mama-mama dari awal.
Mau bangun air, ajak kelompok mama – mama juga. Mau bangun Kampung Nelayan, ajak mama pengolah ikan. Jangan cuma panggil saat gunting pita.
Untuk sekolah: bikin “Bank Cerita Damai”.
Tiap Jumat, satu siswi cerita tentang kebaikan yang dia terima dari teman beda suku. Cerita lebih kuat dari ceramah.
Untuk kita semua di rumah: mulai malam ini, ajari anak kita satu kalimat: “Beda itu biasa dan itu indah.” Kalau kalimat itu hidup di 100 ribu rumah di Alor, saya yakin, tidak ada lagi konflik karena beda.
Kartini melawan pakai surat. Kartini Alor melawan pakai kerja. Pakai masakan. Pakai tenun. Pakai senyum di pasar.
Alor tidak butuh Kartini baru. Alor sudah punya ribuan Kartini. Yang kita butuhkan adalah saling lihat, saling kuatkan, saling jaga.
Karena di Alor kita percaya satu hal: bahasa boleh banyak, tapi air mata kita sama asinnya, kalau kampung baku hantam. Dan tugas kita adalah pastikan air mata itu hanya keluar karena iris bawang, bukan karena rumah terbakar.
Mari kita jaga Tungku.
Mari kita jaga Alor.
Dirgahayu Ibu Kartini.
Hidup Perempuan Alor.
Hidup Perdamaian.
Tuhan Memberkati,
Merlinda Yeanny Rosanty Maro
Penggagas Rumah Perempuan Alor
