“Cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 mampu membiayai kebutuhan impor selama 5,3 bulan, atau mencapai 5,2 bulan apabila turut memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan standar internasional yang menetapkan kecukupan sekitar tiga bulan impor,” ungkap Ramdan Denny Prakoso.
BI memandang kondisi tersebut sebagai modal penting untuk mempertahankan stabilitas makroekonomi dan memperkuat ketahanan sektor eksternal. Bank sentral juga optimistis aliran investasi asing tetap berpeluang meningkat karena prospek perekonomian Indonesia masih dipandang positif dan menawarkan tingkat pengembalian investasi yang menarik.