Oleh: Citra Kurnia Khudori)*
Stimulus ekonomi menjelang akhir tahun bukan sekadar instrumen untuk meringankan pengeluaran masyarakat, melainkan juga kesempatan menjaga pertumbuhan di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga. Kebijakan yang menyasar konsumsi, bantuan pangan, dan transportasi perlu dipastikan menghasilkan manfaat berantai, mulai dari penerima bantuan hingga pelaku usaha di daerah.
Momentum Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 menjadi ujian penting. Peningkatan mobilitas masyarakat berpotensi menghidupkan perdagangan, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, tambahan daya beli serta biaya perjalanan yang lebih terjangkau harus benar-benar berubah menjadi transaksi ekonomi, termasuk di wilayah yang jauh dari pusat pertumbuhan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan stimulus kuartal IV 2026 untuk menjaga daya beli dan konsumsi rumah tangga. Kebijakan tersebut mencakup bantuan beras, Bantuan Subsidi Upah (BSU), program satu orang satu rekening, serta insentif transportasi menjelang libur akhir tahun.
Bantuan beras sebesar 10 kilogram per bulan disiapkan bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat selama Oktober hingga Desember 2026, dengan anggaran sekitar Rp17,54 triliun. Sementara itu, BSU sebesar Rp300.000 per bulan selama tiga bulan menyasar sekitar 13,3 juta pekerja. Penerima yang memenuhi ketentuan dapat memperoleh total Rp900.000.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kedua bantuan tersebut dapat memberikan ruang bernapas pada anggaran rumah tangga. Pengeluaran pangan yang berkurang dan tambahan pendapatan memungkinkan masyarakat membeli kebutuhan lain. Perputaran belanja ini berpotensi menguntungkan warung, pasar tradisional, pedagang kecil, hingga penyedia jasa di lingkungan sekitar.