Pemerintah menegaskan bahwa efektivitas pengendalian karhutla kini bertumpu pada penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai pelengkap aspek teknologi. Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, menekankan bahwa peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan berskala internasional sangat penting, mengingat ekosistem gambut memiliki karakteristik unik yang menuntut keahlian teknis khusus, seperti analisis perilaku api dan pemanfaatan sistem informasi geografis.
Langkah ini menjadi prioritas mengingat peran vital gambut sebagai penyerap karbon dan penyangga biodiversitas global yang harus dilindungi secara kolektif. Melalui penguasaan teknik pemadaman yang efektif dan penguatan kolaborasi internasional, pemerintah berupaya menciptakan ruang pertukaran pengetahuan antarnegara mitra. Sinergi global ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis petugas di lapangan, tetapi juga mengukuhkan ketahanan nasional dalam menghadapi risiko krisis iklim yang kian kompleks dan dinamis.
Sementara itu, pendekatan pengendalian karhutla juga diperkuat melalui inovasi di tingkat daerah. Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengatakan bahwa inisiatif seperti Green Policing yang dikembangkan di Riau menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara aparat, pemerintah, dan masyarakat dapat menghasilkan dampak positif. Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga mengedepankan edukasi dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Jumhur menilai bahwa program tersebut memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Keberhasilan Green Policing menunjukkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pengendalian karhutla. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih efektif karena kesadaran kolektif menjadi bagian dari solusi. Selain itu, kegiatan seperti penanaman pohon juga memberikan dampak langsung dalam menjaga keseimbangan ekosistem.