Oleh: Rania Maemona Ghina *)
Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi momentum untuk menelaah arah transformasi ekonomi Indonesia dalam lanskap global yang semakin kompleks. Ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, dan tekanan daya beli menuntut kebijakan yang tidak semata berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga ketahanan struktural. Dalam konteks tersebut, stabilitas makroekonomi, peningkatan investasi, dan penguatan perlindungan sosial menjadi dimensi penting dalam mengevaluasi perkembangan perekonomian nasional.
Pembangunan ekonomi membutuhkan keseimbangan antara ekspansi produksi dan pemerataan manfaat. Pertumbuhan berkelanjutan tidak cukup ditopang konsumsi domestik, melainkan memerlukan peningkatan produktivitas, investasi bernilai tambah, serta kapasitas fiskal memadai. Kerangka inilah yang relevan untuk membaca arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun terakhir.
Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, mengapresiasi upaya pemerintah merealisasikan agenda Asta Cita dan berbagai program prioritas. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan kebijakan harus dibuktikan melalui implementasi dan tata kelola efektif. Menurutnya, komunikasi publik, ketersediaan lapangan pekerjaan, serta pemerataan manfaat pembangunan masih membutuhkan perhatian.
Ujang juga menilai pemerintah menunjukkan kesediaan melakukan pembenahan terhadap sejumlah program prioritas. Respons terhadap kritik, penguatan pengawasan, dan perbaikan tata kelola menjadi bagian penting dalam memastikan kebijakan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa, menilai ketahanan fundamental ekonomi Indonesia tercermin melalui stabilitas sejumlah indikator makroekonomi. Pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026 menunjukkan kemampuan perekonomian mempertahankan ekspansi di tengah ketidakpastian global.
Dalam analisisnya, Perdana juga menyoroti inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 5,06 persen. Perkembangan tersebut mengindikasikan relatif terjaganya aktivitas ekonomi domestik, meskipun penguatan daya beli tetap membutuhkan perhatian berkelanjutan.