Dua Tahun Prabowo-Gibran: Memperkuat Fondasi Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat

Ketahanan eksternal turut menjadi penopang stabilitas. Cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar pada September 2026 dan surplus perdagangan barang US$7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus menunjukkan kapasitas ekonomi nasional menghadapi tekanan global. Namun, volatilitas nilai tukar, tekanan pasar modal, dan defisit fiskal tetap menjadi faktor risiko yang perlu dikelola secara hati-hati.

Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi tidak hanya ditentukan pertumbuhan, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan eksternal, stabilitas harga, dan kesinambungan fiskal. Dengan demikian, konsolidasi kebijakan menjadi instrumen penting untuk mempertahankan kepercayaan pasar sekaligus memperluas manfaat pembangunan.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo, menilai pemerintahan Prabowo-Gibran memperlihatkan upaya penataan sumber pertumbuhan menuju perekonomian lebih berdaulat. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen pada 2025, disusul penguatan aktivitas ekonomi sepanjang 2026, dinilainya mencerminkan ketahanan ekonomi domestik menghadapi tekanan eksternal.

Bambang juga menyoroti realisasi investasi semester pertama 2026 sebesar Rp1.010,6 triliun, termasuk Rp300,1 triliun investasi hilirisasi. Penguatan industri pengolahan menjadi langkah strategis meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional, memperdalam struktur industri, serta mendorong transfer teknologi dan produktivitas tenaga kerja.

Sementara itu, Juru Bicara Partai Gerindra, Kamrussamad, mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi semester pertama 2026 mencapai 5,45 persen, sementara tingkat kemiskinan pada Maret tercatat 8,07 persen dan pengangguran terbuka pada Mei sebesar 4,65 persen. Indikator tersebut dipandang sebagai perkembangan positif dalam agenda pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah RI, Aditya Laksmana, menjelaskan bahwa pemerintah menyadari adanya kesenjangan antara indikator makroekonomi dan pengalaman ekonomi rumah tangga. Konsumsi domestik yang berkontribusi sekitar 53 persen terhadap perekonomian menjadi alasan pentingnya stimulus fiskal, bantuan sosial, serta penguatan pelayanan dasar untuk menjaga daya beli.

Pos terkait