Oleh: Nadira Citra Maheswari)*
Stabilitas harga merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Di tengah dinamika perekonomian global, kemampuan Indonesia mempertahankan laju inflasi dalam rentang sasaran menjadi indikator penting terjaganya fundamental ekonomi domestik. Kondisi tersebut tercermin dari perkembangan inflasi Oktober 2026 yang menunjukkan bahwa stabilitas harga nasional tetap terpelihara.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Oktober 2026 sebesar 3,23 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,22 persen (month-to-month/mtm), dengan inflasi tahun kalender mencapai 2,40 persen. Capaian tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi pemerintah sebesar 1,5 hingga 3,5 persen. Angka inflasi tahunan ini juga lebih rendah dibandingkan September 2026 yang mencapai 3,28 persen.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa inflasi tahunan Oktober 2026 terutama dipengaruhi oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi sebesar 1,40 persen. Selanjutnya, kelompok transportasi menyumbang 0,59 persen, sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan kontribusi sebesar 0,32 persen.
Amalia juga menyampaikan bahwa sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga dan turut mendorong inflasi tahunan. Komoditas tersebut meliputi bensin, cabai rawit, ikan segar, emas perhiasan, beras, minyak goreng, tarif angkutan udara, daging ayam ras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), serta nasi dengan lauk. Sementara itu, telur ayam ras, bawang merah, kelapa, dan kentang menjadi beberapa komoditas yang memberikan kontribusi terhadap penurunan tekanan inflasi.