Penguatan kualitas juga dilakukan melalui pembinaan sumber daya manusia. BGN mengembangkan Patriot Gizi dengan melibatkan tenaga Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) sebagai edukator keamanan pangan, penggerak program, dan pendata dampak pelaksanaan MBG di masyarakat. Kehadiran tenaga pendamping ini diharapkan memperkuat pengawasan di tingkat lapangan sekaligus membantu memastikan pelaksanaan program sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
Pada aspek keamanan pangan, BGN memperkuat tata kelola melalui penerapan label pada ompreng yang mencantumkan batas waktu aman konsumsi makanan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan makanan dikonsumsi dalam rentang waktu yang sesuai, sehingga risiko penurunan kualitas selama distribusi dan penyajian dapat diminimalkan. Penguatan standar tersebut menunjukkan bahwa kualitas MBG tidak berhenti pada kandungan gizi, tetapi juga mencakup keamanan makanan hingga diterima dan dikonsumsi penerima manfaat.
Perubahan berikutnya terlihat pada pengembangan pola penyajian prasmanan. Kepala BGN, Sudaryono, menilai metode ini berpotensi mengurangi limbah makanan karena peserta didik dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan dan menambah makanan apabila masih tersedia. Pendekatan tersebut juga memungkinkan perbedaan kebutuhan makan antarsiswa diperhatikan tanpa harus menyediakan porsi seragam bagi setiap anak.
BGN telah menjalankan uji coba MBG prasmanan di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 10 provinsi. Percontohan dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Jawa, Aceh, Palembang, dan Merauke, untuk mengevaluasi kesiapan pelaksanaan sekaligus mengidentifikasi kendala sebelum program diperluas. BGN menargetkan sebanyak 5.000 SPPG menerapkan pola prasmanan pada akhir 2026, dengan perluasan dilakukan secara bertahap berdasarkan hasil evaluasi.