Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai persoalan kebencanaan harus menjadi perhatian utama, terutama bagi Jakarta sebagai kota global yang menghadapi risiko kompleks. Potensi kebakaran ketika musim kering, pengaruh El NiƱo, serta kepadatan permukiman membuat kesiapsiagaan harus terus diperkuat.
Pramono menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, BNPB, BMKG, TNI, Polri, Forkopimda, dunia usaha, masyarakat, dan relawan. Kolaborasi tersebut diperlukan agar setiap informasi dapat segera ditindaklanjuti dan tidak berhenti sebagai data semata.
Selain bencana, pemanfaatan informasi cuaca dan iklim juga mulai diarahkan untuk mendukung sektor kesehatan. BMKG bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengembangkan informasi prediksi penyakit berbasis iklim, seperti demam berdarah, malaria, dan diare hingga tingkat kecamatan.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa data meteorologi dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak perubahan kondisi lingkungan terhadap kehidupan masyarakat. Informasi berbasis wilayah juga dapat membantu pemerintah menyusun langkah pencegahan yang lebih terarah dan sesuai dengan kondisi lapangan.
Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten. Pemerintah daerah, lembaga negara, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat perlu menjadikan informasi resmi sebagai dasar tindakan serta memperkuat budaya mitigasi sejak dini.
Dengan koordinasi yang semakin solid, pembangunan yang memperhatikan risiko, dan literasi kebencanaan yang terus ditingkatkan, target menciptakan masyarakat yang lebih tangguh hingga mencapai zero victim dalam setiap kejadian bencana bukan sekadar harapan, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan bersama.
)* penulis merupakan pengamat cuaca dan bencana