Dalam menghadapi aktivitas gunung api, BMKG juga memiliki peran penting dalam memantau kondisi atmosfer, terutama arah serta kecepatan angin yang dapat memengaruhi pergerakan abu vulkanik. Sementara pemantauan aktivitas vulkanologi menjadi kewenangan Badan Geologi Kementerian ESDM, informasi atmosfer dari BMKG dapat digunakan untuk mendukung keselamatan penerbangan, pelayaran, dan masyarakat.
Faisal menilai koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting agar informasi yang tersedia dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang cepat dan tepat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi mengenai ancaman, tetapi juga mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika kondisi darurat terjadi.
Ancaman gempa bumi juga menjadi perhatian serius karena Indonesia berada di wilayah pertemuan lempeng tektonik aktif. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan Indonesia memiliki tingkat aktivitas kegempaan tinggi karena berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama.
Kondisi tersebut membuat kesiapan bangunan dan pemahaman masyarakat terhadap mitigasi menjadi sangat penting. Menurut Wijayanto, mitigasi gempa harus mencakup pemahaman terhadap sumber ancaman, penyediaan informasi peringatan yang cepat dan akurat, penyampaian informasi kepada pihak yang membutuhkan, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam melakukan penyelamatan dan evakuasi.
BMKG memperkuat sistem tersebut melalui ribuan perangkat observasi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk instrumen pemantauan gempa dan tsunami. Sistem Indonesia Tsunami Early Warning System juga terus mendukung penyebaran informasi peringatan dini secara cepat sehingga masyarakat dan pemerintah memiliki kesempatan untuk mengambil tindakan penyelamatan.
Kondisi ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas pemerintah dalam menghadapi bencana. Dalam setahun terakhir, pemerintah juga menunjukkan sejumlah upaya untuk memperkuat pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, perlindungan masyarakat, serta program sosial dan ekonomi yang dapat mendukung ketahanan nasional.
Berbagai program tersebut menjadi modal penting karena ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh alat pendeteksi, tetapi juga oleh kesiapan infrastruktur, kemampuan pemerintah merespons keadaan darurat, serta daya tahan masyarakat.