Jakarta – Pemerintah terus meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi akibat pergeseran pola musim 2026-2027. Risiko yang menjadi perhatian meliputi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, hingga longsor.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prof. Teuku Faisal Fathani, menjelaskan musim hujan 2026-2027 diperkirakan memiliki curah hujan dalam kategori normal, tetapi berlangsung dengan periode yang lebih singkat. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena hujan dalam waktu relatif pendek dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi basah, khususnya banjir dan longsor.
“Karakter hujan pada musim 2026-2027 diperkirakan masih normal, tetapi waktunya lebih singkat. Kondisi ini harus diantisipasi karena dapat meningkatkan ancaman banjir dan longsor di sejumlah wilayah,” kata Faisal.