Faisal juga menilai operasi modifikasi cuaca tidak selalu dapat dilakukan karena pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Ketika potensi awan konvektif rendah pada puncak musim kemarau, teknologi tersebut menjadi langkah yang bersifat situasional dan tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi. Karena itu, pendekatan yang lebih penting adalah memperkuat kesiapan sebelum bencana terjadi.
Wakil Menko Pangan Hanif Faisol Nurofiq turut mengingatkan kepala daerah agar mencermati perubahan musim yang dapat memengaruhi berbagai sektor. Ketika musim hujan mengalami pergeseran akibat periode kemarau yang lebih panjang, ancaman terhadap ketersediaan air, pangan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi dapat muncul secara bersamaan. Pemerintah daerah perlu membangun komitmen lintas sektor dan menyusun kebijakan yang dapat dikoordinasikan dengan kementerian terkait agar ketahanan wilayah tidak hanya bersifat reaktif.
Langkah serupa terlihat di Provinsi Banten. Pemerintah Provinsi Banten bersama BMKG menyiapkan mitigasi untuk menghadapi mundurnya awal musim hujan yang berpotensi memperpanjang kemarau di sejumlah wilayah. Gubernur Banten Andra Soni menempatkan informasi cuaca BMKG sebagai dasar penting dalam menentukan kebijakan, khususnya untuk mengantisipasi krisis air bersih, dampak terhadap pertanian, persoalan kesehatan, dan potensi bencana hidrometeorologi.
Pemprov Banten juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk mengidentifikasi daerah yang membutuhkan penanganan khusus, sehingga distribusi air bersih dapat dilakukan sebelum kekeringan meluas. Pemerintah daerah bahkan menyiapkan opsi Teknologi Modifikasi Cuaca untuk membantu meningkatkan debit air waduk, termasuk Bendungan Karian, apabila kondisi atmosfer memungkinkan dan kebutuhan di lapangan semakin mendesak. Menurut Andra Soni, sinergi antara pemerintah daerah dan BMKG diperlukan agar rekayasa cuaca dapat diterapkan sesuai kebutuhan.
Selain kesiapan pemerintah, kedisiplinan masyarakat dalam menjaga saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air saat kemarau, serta mengikuti arahan petugas menjadi bagian penting dari mitigasi. Kolaborasi tersebut membuat penanganan risiko tidak berhenti pada respons setelah bencana, melainkan bergerak menuju pencegahan yang lebih kuat, cepat, dan berkelanjutan di berbagai daerah.