Sinergi Pusat-Daerah, Negara Siap Hadapi Super El Nino

*) Oleh: Rudi Maulana

Fenomena El Nino yang diperkirakan berkembang menjadi Super El Nino pada 2026 menjadi pengingat bahwa ancaman perubahan iklim bukan lagi persoalan masa depan, melainkan tantangan nyata yang harus dihadapi saat ini. Sejumlah wilayah di Indonesia diproyeksikan mengalami dampak yang lebih berat, mulai dari musim kemarau yang berkepanjangan, penurunan curah hujan, hingga meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Dalam situasi seperti ini, kapasitas negara untuk mengantisipasi bencana akan diuji, terutama dalam menjaga ketahanan pangan, ketersediaan air, dan stabilitas sosial. Karena itu, kesiapsiagaan yang dibangun sejak dini menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak yang mungkin timbul.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Pakar Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin, yang menilai El Nino tahun ini berpotensi berkembang menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Menurut Erma, dinamika atmosfer dan lautan masih terus dipantau sehingga intensitas akhirnya akan ditentukan melalui serangkaian analisis klimatologi dalam beberapa bulan mendatang. Kendati demikian, indikasi awal yang muncul cukup untuk menjadi dasar bagi pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat langkah mitigasi. Sikap antisipatif menjadi penting karena biaya penanganan bencana hampir selalu lebih besar dibandingkan investasi untuk pencegahan.

Selanjutnya, pengalaman Indonesia dalam menghadapi berbagai fenomena iklim ekstrem menunjukkan bahwa dampaknya tidak pernah berdiri sendiri. Kekeringan yang berkepanjangan dapat memicu penurunan produksi pangan, mengganggu pasokan air bersih, hingga memperbesar risiko inflasi akibat terganggunya distribusi hasil pertanian. Di saat yang sama, ancaman karhutla juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi, gangguan kesehatan, serta menurunkan kualitas lingkungan hidup. Oleh sebab itu, penanganan El Nino harus dipandang sebagai agenda lintas sektor yang membutuhkan koordinasi nasional yang kuat.

Pos terkait