Di era media sosial hari ini, sebuah foto sering kali berbicara lebih keras daripada realitas itu sendiri—bahkan ketika foto tersebut kehilangan konteksnya.
Ketua DPC GMNI Kabupaten Alor, Louwen Kafolamau kepada wartawan, Senin, (25/5/2026) mengungkapkan bahwa belakangan, perhatian publik sempat tersita oleh potongan gambar Gubernur NTT, Melki Laka Lena yang terlihat sedang memegang gawai (HP) di sela-sela agenda kunjungan bersama Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka di NTT baru-baru ini.
Bagi sebagian netizen, gestur ini langsung dicap sebagai bentuk “kurang perhatian.” Namun, benarkah demikian? Jika kita mau melangkah lebih dalam dan tidak sekadar menjadi hakim di permukaan, ada realitas kerja yang justru patut diapresiasi.
Mari kita jernih melihat situasi. Hari ini, teknologi telah mengubah cara kerja para pemimpin di berbagai negara. Memegang ponsel di tengah rapat atau kunjungan kerja formal bukan lagi tanda abai, melainkan sebuah metode mencatat yang taktis, cepat, dan efisien.
Menurut saya, bisa saja Gubernur NTT menggunakan gawai tersebut justru untuk merekam poin-poin krusial, arahan langsung dari Wapres, serta detail-detail teknis pembangunan daerah yang tidak boleh terlewatkan.
Sehingga merupakan suatu kekeliruan jika langsung menilai etos kerja seorang pemimpin hanya dari satu jepretan kamera tanpa memahami substansi aktivitasnya.
Bagi saya, substansi jauh lebih penting daripada sekadar gambar. Yang perlu kita soroti bersama bukanlah ke arah mana tangan dan mata Gubernur berkatifitas selama beberapa detik, melainkan apa yang sedang ditenun dari kehadiran Wakil Presiden di bumi Flobamora.
Kehadiran RI-2 di Nusa Tenggara Timur membawa angin segar dan komitmen nyata bagi percepatan pembangunan daerah. Sinergi pusat dan daerah yang terekam dalam kunjungan ini membawa sejuta harapan baru: mulai dari penguatan infrastruktur, pengentasan kemiskinan ekstrim, hingga pengembangan potensi lokal yang selama ini butuh suntikan perhatian dari Jakarta. Ini adalah momentum emas bagi NTT.
Bisa saja catatan digital di HP Gubernur hari itu adalah komitmen kerja—sebuah rangkuman instruksi yang siap dieksekusi oleh jajaran pemerintah daerah demi mewujudkan harapan-harapan baru tersebut. Karena ketika Pemerintah Pusat sudah memfokuskan perhatian dan mengulurkan tangan, maka respons cepat kepala daerah dalam mencatat dan mengawal momentum ini adalah hal yang krusial.
Oleh karena itu, mari kita sudahi perdebatan tentang gambar di ruang digital. Kunjungan Wapres dan kesiapan Gubernur NTT dalam menyerap setiap arahan melahirkan optimisme baru yang jauh lebih besar dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Apresiasi yang tinggi patut kita berikan pada substansi pertemuan dan komitmen pembangunan ini, karena pada akhirnya, kemajuan NTT tidak diukur dari seberapa steril sebuah foto protokoler, melainkan dari seberapa tajam eksekusi kebijakan yang dilahirkan pasca-pertemuan tersebut. (*)
