KALABAHI, WARTAALOR.COM – Mantan Anggota DPRD Kabupaten Alor dari Fraksi PDI-P, Walter M.M. Datemoli, menyampaikan apresiasi terhadap pernyataan kritis yang disampaikan oleh Elvi Padafani terkait dinamika sosial dan politik di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sebelumnya, Elvi Padafani, seorang perempuan muda asal Suku Abui, menyampaikan bantahan tegas terhadap pernyataan tokoh masyarakat Abui, Benyamin Alokafani, yang bernada provokatif dengan menyebut adanya kesiapan untuk “berperang” jika ada pihak yang berupaya menurunkan Bupati Alor, Iskandar Lakamau.
Melalui video yang beredar di media sosial pada Sabtu (14/3/2026), Elvi menegaskan bahwa tidak semua masyarakat Suku Abui memiliki pandangan yang sama. Ia menilai pernyataan bernuansa konflik tersebut berpotensi merusak citra dan nama baik Suku Abui di tengah masyarakat luas.
Menurut Elvi, dalam sistem demokrasi, kritik terhadap kepala daerah merupakan hal yang wajar, terutama jika menyangkut jabatan publik yang melekat pada seorang pemimpin.
“Kita harus bedakan mana kritik personal dan mana kritik terhadap jabatan. Kalau kritik jabatan, itu hak masyarakat, karena masyarakat Kabupaten Alor menitipkan amanah kepada pemimpin daerah, bukan kepada satu kelompok atau suku tertentu,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat berhak untuk mempertanyakan kinerja pemerintah daerah, termasuk program-program yang telah dijalankan, serta mengetahui kondisi kesehatan kepala daerah sebagai bagian dari transparansi publik.
Selain itu, Elvi mengingatkan agar masyarakat tidak bersikap anti kritik, karena mekanisme pemberhentian kepala daerah telah diatur secara jelas melalui prosedur yang berlaku dalam sistem pemerintahan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa Suku Abui memiliki banyak sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga masyarakat perlu bijak dalam memilih figur pemimpin yang benar-benar mampu mengemban amanah.
Elvi juga menyayangkan adanya pernyataan yang mengarah pada konflik fisik. Ia menilai hal tersebut tidak bijak dan berpotensi memicu ketegangan sosial, mengingat Kabupaten Alor selama ini masih kerap diwarnai konflik antarwarga seperti baku lempar, baku panah, hingga bentrokan antar kampung.
Sebagai generasi muda, ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya kaum muda, untuk menjaga persatuan, keamanan, dan kedamaian daerah dengan berpegang pada nilai persaudaraan “Taramiti Tominuku”.
Sementara itu, Walter M.M. Datemoli melalui unggahan di media sosial Facebook menyampaikan apresiasi tinggi terhadap keberanian dan cara berpikir Elvi Padafani.
Walter menilai Elvi sebagai representasi generasi muda yang memiliki pola pikir kritis, berani, dan melampaui sekat-sekat primordialisme yang masih kerap mewarnai dinamika politik lokal.
Menurutnya, meskipun substansi pernyataan Elvi bukan hal baru, keberanian dalam menyampaikan secara terbuka menjadi nilai penting yang patut diapresiasi.
Ia juga menyoroti kemampuan Elvi dalam menyampaikan gagasan secara lugas, sistematis, dan tanpa teks, yang mencerminkan tingkat intelektualitas serta pengaruh kuat literasi digital terhadap generasi muda saat ini.
Walter menyebut bahwa generasi muda seperti Elvi menunjukkan bahwa anak muda tidak apatis terhadap politik, melainkan memiliki daya analisis yang tajam serta kepedulian terhadap kondisi daerah.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberanian sejati bukanlah terletak pada kekuatan fisik atau retorika konflik, melainkan pada keberanian berpikir, bersikap kritis, dan menyuarakan kebenaran secara rasional.
Pernyataan Elvi, lanjut Walter, menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak terjebak dalam pola pikir sempit berbasis suku maupun kepentingan kelompok, serta mendorong praktik politik yang lebih sehat dan berorientasi pada kepentingan publik.
Dengan adanya respons dari berbagai pihak, pernyataan Elvi Padafani diharapkan dapat menjadi momentum refleksi bersama bagi masyarakat Kabupaten Alor untuk terus menjaga stabilitas, memperkuat persatuan, serta mengedepankan nilai-nilai demokrasi yang sehat dan beradab. ***(joka)
