Selain berkaitan dengan pengurangan kemiskinan, program MBG juga dinilai berperan dalam mengatasi persoalan kelaparan dan kekurangan gizi pada anak. Alfatehan menilai masih terdapat anak-anak di sejumlah daerah yang belum mendapatkan asupan makanan bergizi secara memadai setiap hari.
“Program ini juga berkaitan dengan zero hunger. Masih ada anak-anak yang makan hanya sekali sehari atau hanya nasi dengan lauk sederhana. Melalui MBG, setiap anak mendapatkan porsi makanan yang jelas, misalnya satu anak mendapatkan satu telur atau satu protein hewani yang cukup,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai keberadaan program MBG juga dapat memberikan dampak positif terhadap sektor pendidikan.
Makanan yang disediakan di sekolah dapat menjadi insentif bagi anak-anak untuk tetap datang dan mengikuti kegiatan belajar.
“Ketika ada program MBG, anak-anak memiliki insentif untuk datang ke sekolah. Orang tua juga merasa lebih tenang karena setidaknya ketika anaknya hadir di sekolah, mereka pasti mendapatkan makanan,” kata Alfatehan.
Dalam dialog interaktif tersebut, dua pendengar Radio Elshinta turut menyampaikan pandangannya mengenai program MBG. Salah satu pendengar bernama Surya menilai program tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, meskipun menurutnya masih terdapat sejumlah catatan terkait pelaksanaan di lapangan.