Kalabahi, wartaalor.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Alor dalam hal ini Dinas Pertanian mendapat dukungan Pemerintah Pusat (Pempus) untuk mengoptimalisasi lahan pertanian, khususnya lahan basah bagi kelompok tani di Alor. Dinas Pertanian akan membuka lahan-lahan baru yang lebih luas di musim penghujan tahun ini, dalam rangka mendukung swasembada pangan di Kabupaten Alor.
Kepala Bidang Prasarana Sarana dan Penyuluhan (Kabid PSP) Dinas Pertanian Alor, Novadianus S.D. Lapailaka, SP mengatakan, hasil komoditas pertanian di musim hujan awal tahun 2025 lalu cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Novadianus menyebut tahun ini pemerintah akan membantu optimalisasi lahan kelompok tani, khususnya lahan basah yang ada agar hasil komoditas lebih meningkat lagi.
“Untuk lahan basah, produksi padi, khususnya padi sawah secara umum terjadi sedikit peningkatan dari tahun sebelumnya. Seperti di Desa Tulleng Kecamatan Lembur yang saat ini masyarakat kelompok tani sudah tiga kali tanam padi. Hal ini karena saluran irigasi dan sumber air untuk mengairi tanaman sangat cukup. Untuk di Desa Pailelang Kecamatan Alor Barat Daya juga demikian, dimana saat ini sudah tiga kali tanam padi,” ujar Novadianus saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, Senin, (22/9/25) pagi.
Kabid PSP Novadianus menambahkan, untuk wilayah Kecamatan Alor Selatan dan sebagian wilayah lainnya hanya satu kali tanam padi dalam musim hujan tahun ini. Petani sawah tidak bisa menanam lebih dari satu kali karena tidak ada dukungan saluran air yang baik untuk mengairi tanaman.
Petani sawah tahun ini tidak mengalami gagal panen, yang ada kurang ketersediaan saluran air.
Novadianus menjelaskan, sawah padi terbesar di Kabupaten Alor ada di Desa Tanglapui Kecamatan Alor Timur. Luasnya sekitar 160 hektar. Namun karena keterbatasan sumber air, petani hanya satu kali tanam saja dan satu kali panen ketika musim hujan.
“Sehingga tahun ini ada dukungan sedikit anggaran pemerintah pusat melalui APBN untuk melakukan optimalisasi lahan. Jadi kita lakukan perbaikan saluran irigasi dan saluran perpipaan dari sumber mata air untuk mengairi tanaman. Agar petani bisa dua kali menanam dalam satu tahun dan hasil tanaman bisa meningkat,” ujarnya.
“Jadi untuk masalah gagal panen karena hama atau penyakit itu sedikit, lebih banyak gagal panen karena kurangnya air,” tambah Novadianus.
Sedangkan untuk lahan kering, lanjut Novadianus, setiap tahun petani biasa garap dengan luas lahan yang tidak terlalu signifikan. Lahan kering biasanya petani selain menanam tanam padi jagung, mereka juga tanam kelapa, kemiri dan lainnya.
“Tidak terlalu signifikan. Kadang petani hanya sebatas menanam tanaman diatas hamparan kosong yang sedikit bebatuan sehingga hasil tanaman tidak banyak,” katanya.
Dikatakannya, bahwa musim tanam tahun ini pemerintah pusat mendukung petani untuk fokus ke lahan basah dengan membuka lahan baru, tidak hanya seluas 500 atau 600 hektar seperti biasanya, tetapi lebih dari itu. Jadi untuk mendukung swasembada pangan di kabupaten Alor, kedepan kita harus optimalisasi lahan yang ada dan membuka lahan-lahan baru.
“Optimalisasi lahan bisa juga lahan yang sudah digarap petani tetapi karena keterbatasan sehingga luasnya kecil, kita bisa dukung memperluas lahan yang ada. Selain itu kita juga memperbaiki saluran air, sehingga kedepan minimal walaupun musim panas, tetapi petani bisa menanam dua atau tiga kali karena sumber air kita optimalkan,” pungkasnya.
Sedangkan untuk kebun jagung, di Kabupaten Alor hanya ada di Kecamatan Pantar Tengah yang masuk daerah penghasil jagung cukup signifikan. Sehingga kedepan, pemerintah berupaya memberdayakan kelompok tani disana agar membuka lahan yang bagus untuk ditanam jagung.
Realisasi Pupuk Subsidi Mencapai 94 Ton
Pada kesempatan itu, Kabid PSP Novadianus Lapailaka juga menjelaskan berkaitan dengan alokasi dan realisasi serapan pupuk bersubsidi tahun 2025 di Kabupaten Alor yang saat ini mencapai 94 ton untuk pupuk urea dan 19 ton untuk pupuk NPK.
Berdasarkan SK Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Alor Nomor: Distanbun.520.188.4.48/311.c/VIII/2025 tanggal 1 Agustus 2025, serapan pupuk subsidi ini tersebar di 10 kecamatan di kabupaten Alor. Sedangkan 8 kecamatan lainnya masih berproses.
10 kecamatan tersebut yakni, Kecamatan Teluk Mutiara, Alor Selatan, Lembur, Pantar Barat Laut, Alor Tengah Utara, Alor Timur, Alor Timur Laut, Alor Barat Laut, Alor Barat Daya dan Kabola.
“Jadi berkaitan dengan pendistribusian ini kami juga sudah lakukan sosialisasi kepada kelompok tani di kabupaten Alor. Harga murah sekali, sekitar Rp 2.250/kg,” ujarnya.
Dia menjelaskan, realisasi pupuk subsidi itu bagi kelompok tani yang sudah terdata dalam aplikasi simultan. Pemerintah berupaya agar kedepan realisasi pupuk ini lebih meningkat lagi atau bisa mencapai 100 ton.
“Di Alor ada sekitar 700 an kelompok tani. Kendala dalam penyaluran pupuk subsidi ini biasanya NIK. Karena semua sudah sistem online, kelompok tani ini sudah terdata dalam aplikasi simultan. Mereka datang ambil pupuk harus mengisi data diri secara online jadi kadang mereka lupa bawa KTP. Kendala yang berikut juga masalah pengecer pupuk subsidi di Kabupaten Alor yang hanya satu orang saja yang berbadan hukum,” jelasnya. ***(joka)
